Foto: SMBR GLDK/PE.CC

Oleh Firman Firdaus


“Hati-hati ya, Yah. Fii amanillah.”

Pesan istri saya di permulaan hari yang masih gelap itu terdengar menyejukkan, sekaligus menyuntikkan harapan. Restu dan doa dari orang tercinta sebelum kita melakukan perjalanan adalah karunia terbesar dan menjadi tambahan energi. Apa lagi, perjalanan yang akan saya lakukan adalah bersepeda sejauh 300 kilometer dengan batasan waktu (randonneuring) 20 jam, bertajuk ANUdax.

Bagi yang belum tahu, ANUdax adalah event randonneuring tahunan yang digagas Team ANU (bagian dari komunitas B2W Rombongan Bekasi). Tahun ini merupakan penyelenggaraan yang keempat kalinya. Enam tahun lalu (2015), untuk pertama kalinya saya mengikuti ANUdax. Jarak yang ditempuh 400 kilometer dengan target 24 jam. Seperti sudah diduga, saya dan sebagian besar peserta gagal memenuhi target. Hanya dua orang kurang waras super dari Team ANU Robek saja yang berhasil menunaikan target.

Foto: Dr. Taufiq Supriyadi

Pada 2019, saya juga sempat ikut event independen ini, tetapi tidak tuntas; harus menyerah di sekitar kilometer 250-an. Setahun kemudian, dengan kondisi sudah jarang bersepeda jarak jauh, saya memberanikan kembali ikut. Alhasil, saya tuntaskan pilihan 200 kilometer saja. Itu pun melebihi batasan waktu (cut-off time). Lemah banget ya? Hahaha…

Tahun ini, ketika Team ANU kembali menyelenggarakan ANUdax 300 kilometer, ada semacam keraguan yang berkecamuk (anjay lebay) dalam diri saya karena beberapa hal. Pertama, saya merasa kondisi fisik sudah tidak memungkinkan lagi karena sudah buncit jarang sekali berlatih atau gowes secara teratur. Kedua, saat ini masih dalam situasi pandemi, jadi tetap ada kekhawatiran untuk berkumpul dalam jumlah besar (lebih dari lima orang). Namun, rasa penasaran untuk menuntaskan tantangan akhirnya mengalahkan segala keraguan dan kekhawatiran itu. Saya memutuskan untuk mendaftarkan diri. Toh, gratis ini 🙂

Foto: Bayu Hanggoro

Seiring waktu, panitia memberikan bocoran-bocoran informasi yang membuat saya dan peserta lain makin bersemangat untuk berpartisipasi. Pertama, seluruh peserta wajib menjalani penyaringan awal lewat rapid test antibody secara gratis (terima kasih buat Om Purbayu Fatken, dari PT Standard Biosensor Indonesia yang telah memfasilitasi tes ini). Bagi peserta yang sudah pernah menjalani tes, wajib untuk menunjukkan bukti bahwa yang bersangkutan negatif Covid-19. Selain itu, semua wajib menjalani protokol kesehatan selama event berlangsung.

Kedua, panitia—berkolaborasi dengan PT Cipta Teknologi Kreatif (CTK)—mengabarkan telah membuat sistem “electronic check-in” menggunakan QR code yang bisa dipindai, dan secara otomatis data masuk ke dalam database. Canggih banget, kan? Setara event-event kelas dunia, haha. Data check-in ini kemudian bisa dipantau semua orang secara real-time lewat website onboarding: siapa sudah sampai di checkpoint berapa. Pasti menarik, pikir saya. 

Foto: Wiko Haripahargio

Ketiga, ada “Grand Prize” umroh bagi peserta pertama yang bisa finis di bawah 12 jam, persembahan Om Didik dari Medina Iman Wisata. Walau agak mustahil—bukan agak sih, tapi udah jelas mustahil, haha—bagi saya untuk meraihnya, informasi ini semakin membuat event ini menjadi mendebarkan. Juga banyak iming-iming lain seperti paket merchandise (stiker, bendera, cemilan, jersey starter, jersey finisher untuk peserta terpilih, dst). Padahal, sekali lagi, ini event gratis!

Hal lain yang membuat saya makin semangat adalah banyak di antara peserta ternyata adalah “pesohor” di dunia sepeda, yang selama ini hanya saya tahu dari media sosial mereka. Rasanya seperti kurcaci yang berada di tengah-tengah “clash of the titans”. Saya merasa keren. Merasa doang, aslinya sih buluk 😀

***

Pagi buta, 27 Februari 2021. 

Di kawasan Summarecon Bekasi, peserta yang berjumlah sekitar 90-an orang, yang berasal dari 23 komunitas maupun individual, disebar ke lima “titik kumpul (tikum)” demi menerapkan protokol kesehatan. Masing-masing dipandu oleh “koordinator tikum” yang menjelaskan secara ringkas tentang pelaksanaan event, setelah sebelumnya semua peserta dinyatakan negatif dan/atau non-reaktif Covid-19, baik lewat rapid test di tempat maupun dengan bukti dokumen. 

Foto: Irwan

Meski masih pagi, saya merasakan kehangatan yang luar biasa; rasa hangat persaudaraan antarpesepeda, yang mungkin sudah lama tidak bersua, atau kegembiraan karena perkenalan kawan-kawan baru. Tawa dan canda bergemuruh, meski mulut-mulut peserta ditutup masker. Kewaspadaan tetap harus dijaga.

Sekitar pukul 6.30, peserta mulai diberangkatkan. Tawa dan canda lamat-lamat masih terdengar, tapi pelan-pelan sirna. Memasuki kilometer awal, beberapa peserta langsung tancap gas. Peserta lain, termasuk saya, berusaha mengatur ritme (padahal mampunya emang segini saya mah, :D). Sekitar 5-10 kilometer kemudian, rombongan mulai kocar-kacir. Para frontliner sudah tidak terlihat. Peserta lainnya mulai “regroup” dengan komunitasnya masing-masing, atau bergabung dengan goweser yang pace-nya sama. Begitulah konsep randonneuring: allure libre.

Menjelang CP1, saya ditemani rekan B2W Robek, Om Nendri. Namun, berhubung saya mesti refuel bidon di segmen Batujaya, kami pun terpisah. Sekitar satu kilometer menjelang CP2 (kilometer 61) , saya lihat Nendri mlipir ke Alfamart. Nanggung banget, pikir saya. Saya memutuskan lanjut. Sejak saat itu, tidak pernah bertemu Nendri lagi. 😀

Dari CP2 hingga CP4 (kilometer 116, yang kemudian bergeser sekitar 9 kilometer) saya lebih sering gowes sendirian. Satu-dua peserta lain kerap terlihat di warung atau minimarket di sepanjang jalan. Kerap kali, kami saling salip. Bukan untuk balapan, tetapi mengatur ritme kayuhan. Begitulah.

Hikmahnya, dalam kesendirian, saya justru menemukan jati diri: betapa saya hanya makhluk lemah, yang mudah merasa payah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah Sang Maha Kuat, Pengatur Alam Semesta, Penguasa Langit dan Bumi. Tanpa sadar, kata-kata subhanallaah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallaah, Allaahu akbar meluncur dari mulut saya. Deras.

***

Om Trie Tio cukup panjang menemani perjalanan saya mulai CP4 hingga menjelang CP5. Sayangnya, Trie memutuskan untuk tidur sejenak di sebuah warung di kilometer 150, di Jalan Raya Jatireja, sebelum CP5. “Duluan aja om, saya mau tidur dulu. Tangan juga udah sakit banget,” ujarnya dengan suara sayu. Meski agak kurang tega, saya terpaksa lanjut. Sendiri lagi.

Lepas CP5 hingga finis di CP10, barulah saya ditemani (atau menemani?) ride-buddies lain: Om Budi (Team ANU) dan Nte Listri (Bogor). “Saya ikut bareng ya om, nggak berani saya gowes sendirian gelap-gelap,” ujar Listri yang saya temui menjelang CP6 (kilometer 192), bertepatan dengan adzan Magrib. Setelah sholat dan bersih-bersih di masjid beberapa kilometer dari CP6, kami tidak terpisahkan hingga finis di Bekasi, sekitar pukul 2.25 pagi.

Berkali-kali, di sepanjang perjalanan, kami dihantui pikiran untuk menyerah. Rasa kantuk yang sangat dan rasa perih di pantat betul-betul telah menggerus semangat. Rasa penat membuat lubang-lubang di jalan tidak terlihat. Belum lagi mobil dan truk di sepanjang jalan Karawang-Cikarang yang tak habis-habis berkelebat. Namun, kemudian kami saling memantapkan niat. “Tanggung tapi ya. Kita selesaikan saja. Jam berapa pun sampainya. Toh, kita sudah mengarah pulang,” ucap Budi Edi menyemangati, yang pernah menjadi Koordinator Wilayah B2W Robek. 

***

ANUdax300 2021 ini memang penuh drama. Bahkan, drama telah dimulai di awal-awal etape; sebagian peserta tersesat hingga 20-30 kilometer jauhnya. Dari percakapan di grup Whatsapp peserta, saya menyimak banyak laporan perjalanan rekan-rekan lain dengan dramanya masing-masing. Ada Om Roy, alumnus berbagai event gowes jarak jauh yang sudah bocor ban dua kali dalam 15 kilometer pertama, sekaligus sobek ban luarnya. 

Ada Om Chaidir Akbar, seorang triathlete yang terpaksa dievakuasi selepas CP6 karena muntah, diduga karena mengonsumsi jus di pinggir jalan. Padahal, sebelumnya hampir semua peserta yakin bahwa beliau pasti akan menjadi first finisher. Ada Om Budi Yakin, punggawa sebuah komunitas pesepeda gravel yang ponselnya kecemplung di toilet minimarket sehingga tidak bisa lagi melakukan scan di checkpoint. Ada Listri Yani, peserta perempuan yang bablas sendirian di jalan raya Pantura yang kejam, dan bermacam drama lain yang kerap kali menghadirkan tawa sekaligus “rasa syukur” karena hal-hal tersebut tidak terjadi pada saya.

Foto: Andry Adam
10 finisher pertama.

Saya rasa, di situlah seni bersepeda jarak jauh berbatas waktu seperti ANUdax. Kita berkompetisi dengan diri kita sendiri. Mengalahkan diri sendiri. Ia mengajarkan kita untuk bersikap jujur (dengan mengikuti rute yang ditentukan), tabah dan disiplin (dengan kewajiban melakukan pindai di checkpoint), dan rendah hati (dengan mempersilakan semua orang untuk bersepeda dengan kemampuan masing-masing, tanpa persaingan). Hal yang juga patut dicatat adalah, ANUdax kali ini mengafirmasi niat penyelenggara di awal: menjadi wahana silaturahim dan temu kangen para pesepeda dari berbagai komunitas.***


Segenap keluarga besar Team ANU mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sponsor, donatur, pendukung, media partner, komunitas, dan volunteer yang telah berpartisipasi dalam event “ANUD4X 2021”

@miwtravelofficial@bukopinsiaga@adm.ptscm@anugrahcemerlangnusantara@demaznoer@striveindonesia@handyclean.id@xonce_id@bpjs.ketenagakerjaan@rombongan_bekasi@bpkbersepeda

Sampai jumpa di event ANUdax selanjutnya!