Catatan perjalanan Bike Camping

Seperti live report yang sudah digencarkan sepanjang perjalanan kemarin sampai hari ini, sekarang mau nyoba manuangkannya dalam catatan perjalanan ah. Sungguh perjalanan yang melelahkan, menguras tenaga dan daya tahan tapi juga sekaligus menakjubkan. Sebuah trip yang komplit dengan segala macam jenis trek dari tanjakan dan turunan makadam, XC n freeride.

 

Perjalanan dimulai dari rumah om arie di cikunir. Setelah semua peserta kumpul dan siap dengan bawaan dan sepeda masing masing, kita semua meluncur ke daerah Pelabuhan Ratu. Kami semua diusahakan tidur untuk trip di pagi harinya. Diwarnai dengan insiden kecil di subuh hari dimana mobil om Apip terperosok, akhirnya sampailah kita di pelabuhan ratu. Dipinggir pantai yang indah, kita semua sarapan, foto2 sambil melemaskan badan. Tak lama kemudian kita melanjutkan lagi perjalanan menuju Paguyangan. Disana sepeda dan perlengkapan selama gowes di keluarkan dan disiapkan.. AND THE ADVENTURE  BEGIN…

 

Setelah siap dan foto foto, 15 orang robekers pemberani, Om Iman Bleken, Om Apip, om Afri gigs, om Aditya, om Iwan QQ, om Tony, Om Ade, Om Aris, Om Djohan, Om Arie, om Omega, om tono, om Deden, om Wak Luthfi, dan om Inu, tepat pukul 8 perjalanan pun dimulai. Dari awal kita sudah disuguhkan tanjakan aspal rusak panjang. Dengan pemandangan perbukitan pedesaan pagi hari, menambah nikmat kayuhan sepeda. Diselingi dengan turunan menuju lembah, dan tanjakan makadam curam , sampailah di komplek rumah adat Ciptarasa. Disambut oleh perwakilan adat dari ciptagelar dan disuguhi kue khas setempat dan ari putih yang dingin karena udara, kita pun melepas lelah sejenak. Tuan rumah pun tampak ramah dengan obrolan obrolan khas dengan bahasa sunda. Alhamdulillah nikmat.

Cukup dengan istirahat dan mengobrol2 ria, foto foto untuk kenang kenangan, perjalanan dilanjutkan menuju Kasepuhan Ciptagelar pukul sepuluh lewat. Meninggalkan ciptarasa kami semua langsung dihadang tanjakan batu makadam yang tersusun rapih namun curam. Tak ayal pun hampir dari kami semua TTB alias tuntun bike. Yang mencoba gowes pun tak bertahan lama. Karena memang sangat berat. Beberapa dari kami tercecer dibelakang. Namun masih ada om QQ yang setia sebagai sweeper menemaninya. Teman teman yang lain pun dengan setia menunggu dipuncak tanjakan. Setelah itu pun turunan makadam panjang pun menyambut. Serasa downhill. Selesai? Belum ternyata.. masih ada tanjakan yang tidak kalah curamnya. Sempat lewat arah kebalikan mobil sport 4WD yang juga susah payah menaklukkan tanjakan.  Coba searah..pasti sudah menawarkan untuk di evakuasi . haha… disalah satu ujung turunan ada pos peristirahatan dengan sungai kecil mengalir jernih dibawahnya. Kami pun melepas lelah sejenak. Meskipun ditengah hutan namun sangan indah dengan banyak kupu kupu beterbangan. Om tono sempat jatuh disini gara gara lupa melepas cleat disepatunya. Dengan vegetasi pepohonan yang rapat, panas mentari pun tar terasa. Dikejauhan suara panggilan owa jawa sahut menyahut. Suara burung hutan berkicau. Oooh Indahnya..

 

Setelah hampir tiga jam menikmati tanjakan dan turunan makadam, sampailah kita dipuncak terakhir. Menunggu om tony yang masih tercecer dibekalang karena keberatan bawa panier dibelakan sepeda, tampak lembah kasepuhan Ciptagelar tak jauh dibawah. Sungguh pemandangan yang indah. Tak sabar ingin segera sampai, kami pun meluncur kebawah. Sesampainya disana pun tak hentinya kami dibuat takjub dengan indahnya pemandangan dan kesederhanaan yang tampak. Kamipun disambut oleh perwakilan adat yang tadi menyambut kita di ciptarasa. Terbayar sudah lelah dan perjuangan dengan keindahan alam dan rasa kebanggaan sudah sampai disini. Kamipun makan siang yang sudah telat dan sholat serta bersilaturahmi dengan perwakilan adat kasepuhan ciptagelar.

 

Setelah memuaskan dahaga akan pengetahuan seputar ciptagelar, tepat pukul 4 sore kami pun melanjutkan perjalanan menuju cipeuteuy via hutan Halimun. Dikarenakan perjalanan akan sampai malam hari, maka lampu sepeda pun disiapkan. Kontur menanjak pun kembali menyambut. Kami pun sempat berpapasan dengan rombongan pesepeda yang akan turun menuju ciptagelar. Disini kita disuguhkan dengan trek XC tanah kering dengan kontur naik turun khas pegunungan. Hari pun semakin sore dan gelap. Lampu sepeda mulai dinyalakan. Vegetasi pepohonan pun semakin rapat. Jalan yang tadinya lebar semakin menyempit dan berubah menjadi single trek, dan kamipun memasuki hutan pegunungan Halimun. Hari semakin gelap dan kamipun harus ekstra waspada dengan jurang di pinggir trek. Gelap, hening menyambut. Hanya ada suara kresek kresek dari ban sepeda kami, celotehan celotehan kami yang menemani. Sungguh trek seperti ini mungkin akan sangat nikmat jika dilalui pada siang hari. Namun tak kalah menantangnya pada malam hari. Siluet pohon pohon besar dan tinggi dengan latar langit gelap dan sinar bulan, sungai kecil dengan jembatan batang pohon menjadi pemandangan selama perjalanan.

 

Lebih dari 3 jam menggowes sepeda naik turun bukit, kami pun mulai keluar dari hutan. Vegetasi pepohonan mulai merenggang. Di lembah sana lampu lampu rumah penduduk mulai terlihat. Dan yang sangat mengasyikan, keluar dari hutan kita disuguhi dengan single trek turunan curam sangat panjang dengan tanah kering dan berdebu. Serasa menuruni trek freeride. Sangat nikmat meluncur dengan kecepatan hampir 40 km/jam. Apalagi om arie yang memakai sepeda FR di trip ini. Debu debu berterbangan akibat disapu ban sepeda kami. Yang paling tidak enak tentu yang dibelakang terkena debu debu yang berterbangan. Dan sampailah kita di pamengpeuk pada ujung trek tepat jam 8 malam.

 

Warung yang masih buka pun menjadi sasaran serbu kami yang kelaparan. Setelah melepas lelah sejenak, kamipun beranjak menuju hulu sungai citarik yang tak jauh dari sana untuk camping. Buka tenda, bakar ayam, makan malam bersama menjadi kegiatan penutup perjalanan pada hari itu. Sungguh perjalanan tak terlupakan.

 

 

Hari ke dua..

 

Tak terasa pagi pun datang. Dingin masih terasa menyelimuti udara pagi. Sebagian dari kami masih tertidur pulas didalam tenda. Saya pun keluar dari tenda. Ternyata, om arie sudah sibuk dengan masakannya sarden dan kornet.. hmmm harum masakannya pun menyusup sampai kedalam tenda. Keriuhan pagi mulai tampak. Saya pun menunaikan shalat subuh yang sudah kesiangan. Yang lain sibuk mencuci muka, dan ada yang kebingungan menari tempat untuk buang hajat. Sempat bertanya kepada penduduk sekitar ingin numpang buang hajat dipondokannya, ternyata ga ada kamar mandi disana. Malah disuruh buang hajat di sungai. Hmmm enak juga sih kayaknya. Ya sudah lah. Sungai menjadi tempat menunaikan hajat kami pagi itu.. sambil meminta maaf dalam hati kepada penduduk yang ada di hilir sana.. hehehe…. Keriuhan tidak hanya sampai disitu. Ternyata kabar kehadiran kita disana perlahan menyebar  sehingga banyak anak2 kecil dan gadis desa yang nonton dari atas bukit dan dari kejauhan. Wow..

Sarapan pagi, cek cek sepeda, mandi di sungai, buang hajat, lipat tenda menjadi sebagian kesibukan kami pagi itu. What a beautifull morning..

 

Setelah melalui pertimbangan dan perhitungan  yang matang dan bijak, akhirnya kita merubah rute yang tadinya menuju citalahab – cikaniki – nirmala – leuwiliang, diputuskan mengambil jalur Cipeuteuy – kabandungan – parakansalak – parung kuda. Agar kita semua bisa tiba dirumah dan berkumpul dengan keluarga sebelum malam hari. Tentunya dengan trek yang tak kalah asiknya. Namun lebih santai.

Selesai berberes dan menyiapkan semuanya, perjalanan dilanjutkan. Kerena letak kemah berada dibawah, sudah pasti untuk keluar harus keatas lagi. Menu tanjakan pun menjadi makanan pembuka. Dilanjut dengan turunan aspal rusak dan tanjakan curam, tibalah kita di cipeuteuy. Nah disinilah om tony megalami masalah. Ban luar belakang sepedanya sobek. Berhubung tidak ada yang membawa ban luar cadangan , maka perjalanan dilanjutkan sampai bertemu dengan mobil. Dan akhrinya om tony pun dievakuasi karena tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanan.

Setelah cipeuteuy perjalanan dilajutkan melalui jalan aspal. Namun tetap menanjak dan ada turunan khas perbukitan sukabumi. Perkebunan teh di parakan salak, lembah perkampungan menjadi pemandangan gowes hari itu. Suasana pun lebih santai. Semua menikmati gowesan. Godaan dari om tony dan elang biru tidak membuat kami putus asa. Hahahaha… dan akhirnya tepat adzan dzuhur, tibalah kita di parung kuda. Sesampainya disana sepeda dinaikkan ke pick up dan kita pun meluncur pulang kerumah dengan kenangan petualangan yang tak terlupakan.

 

Pramudya ade