by Gandalf The Pispot

Masih dengan benak yang penuh tanya, aku menceritakan kisah perjalananku bersama Tim Anu ke situs megalithikum di gunung padang, cianjur. Aku dan mungkin sebagian besar dari kalian tidak mengetahui keberadaan situs tersebut yang menurut para ahli sudah berdiri sejak jaman pra sejarah beberapa abad sebelum masehi. Sedikit sekali tulisan yang membahasnya, ada secuil informasi dari wikipedia  : “Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarahpeninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan CampakaKabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundakterbesar di Asia Tenggara.”

Terlintas di benakku…”beberapa abad sebelum masehi”. Allahu Akbar! ini sebelum jaman kerajaan-kerajaan besar di nusantara ini lahir di bumi nusantara ini sudah ada peradaban.

 

Yang kami percayai memimpin petulangan ini adalah…., ya betul, siapa lagi kalau bukan sang penipu, RC (road captain) yang tidak pernah menyukai sun block. Dengan kepiawaian dia mengedit data gps di google earth, digabungkan dengan data yang dia dapat entah dari mana, terciptalah route petualangan kami. Sesuai dengan perhitungan waktu menurut dia yang selalu meleset plus minus 5 jam, Insya Allah kami akan blasak blusuk sekitar 9 jam. Dari mulai jam 9 pagi s/d jam 6 sore dari titik start  dan kembali lagi ke sana yaitu stasiun kereta api cibeber, cianjur.

 

Sekitar jam 04.30 pagi itu di hari Sabtu tanggal 10 Maret 2012. Aku sudah terbangun dari lelap tidurku. Sambil menunggu azan subuh, aku mengganti pedal si Trecky dengan pedal tanpa cleat. Petualangan bersepeda yang di pandu oleh RC itu selalu menjanjikan kejutan-kejutan. Dan aku termasuk orang yang “kapok” menggunakan sepatu ber cleat di medan menanjak nan berbatu. Jatuh bodoh tanpa bisa melepaskan kaki dari pedal. Seatpost pun aku ganti dengan seatpost yang lurus, untuk membantu distribusi beban tubuhku lebih berat kedepan. Travel fork aku setting  sekitar 85 mm. Targetku untuk petualangan kali ini adalah, jangan sampai keteteran di belakang menemani sweeper abadi yang makin banyak diminati oleh Anuers. Teringat kembali akan gowes offroad terakhir kali yang aku ikuti sekitar satu bulan sebelumnya, raport performa ku sudah sedikit biru dongkeer mendekati merah. Setelah shalat subuh, mobil yang menjemputku sudah tiba. Dengan berbekal doa restu istriku dan sebuah apple sebagai pengganjal isi perut, aku meluncur ke tikum di pomp bensin pertamina di dekat hyper mall giant bekasi barat.

 

Tepat jam 6 kurang 15, aku tiba di tikum. Berjumpa kembali dengan muka-muka yang tidak asing, selain salah satu peserta muda, atlit sepeda mtb nasional dari bandung, Om Alam. Total peserta survey sebanyak 18 orang, kami meluncur dengan perlahan menuju titik start yaitu stasiun cibeber, cianjur selatan ( 6°56’16.15″ S, 107° 7’15.90″E – 461 m dpl) melalui jalur puncak-cipanas. Selama perjalanan tidak ada insiden yang berarti, kecuali mogoknya mobil salah satu peserta yang perlu penanganan tersendiri sementara kami gowes nanti. Untuk mengisi energi, kami berhenti di cianjur kota melahap sarapan  pagi soto mie cianjur dan ngopi barang beberapa teguk. Ini mengingatkanku akan kebiasaan Lance Armstrong yang selalu membawa coca cola 300 ml pada setiap etape di tour dunia yang dia ikuti. Entah mungkin sebagai stimulan untuk otot, yang banyak juga diterapkan oleh para bodybuilders. Karena coca cola itu jenis american drink, yang dikhawatirkan membuat mencret para peserta dan mungkin mimisan juga. Kami hanya berani minum kopi tubruk yang berbonuskan kumis butiran kopi, seperti om Amburadul.

 

The Start

Matahari malu-malu untuk menampakan dirinya, tertutup awan abu-abu. Cuaca mendung bagaikan payung yang akan menemani kami mengucurkan keringat. Setelah selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan kembali menuju titik satart. Melenceng sekitar 1 jam dari rencana. Gerobak-gerobak berbahan bakar fosil kami parkir di seberang stasiun kereta Cibeber peninggalan jaman pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai lagi. Tampak rerumputan liar tumbuh di mana-mana, tipikal layaknya aset-aset tua republik ini yang ditelantarkan, meskipun sebenarnya masih bisa digunakan. Waktu seperti tidak berjalan,  seolah olah dari arah timur masih terdengar dentuman pentempuran antara pasukan KNIL dan pejuang republik ini. Pikiranku melayang sambil memperhatikan kesibukan kawan-kawan yang sedang mempersiapkan diri.  Sir Kus, sudah sejak dari pemberangkatan mengalami kebocoran  alami. Hal pertama yang dia cari adalah pit stop pembuangan panggilan alam. Om Sahat, sibuk mengorganisir orang bengkel untuk mengadakan perbaikan in situ, mobilnya yang mogok di daerah Cianjur Kota yang telah di parkir di depan sebuah restoran. Peserta lain mulai mempersiapkan diri, mengecek kelengkapan dan tuning performa sepeda dan pemanasan. Hal yang gampang tapi sering di lupakan. Sang atlit, Om Alam memberi contohstretching otot dari mulai tangan, tubuh dan kaki. Inilah bedanya atlit dan atit. Kalau atlit selalu melakukan pemanasan, kalau atit, selalu kram, dan galau di track karena gak melakukan pemanasan.

Hampir jam 11.00, diawali dengan doa yang dipimpin oleh Sir WJ, kita memulai petualangan ini. Tujuan pertama adalah mencapai titik pertigaan sebelum belok ke track off road. Sekitar 12 km (tepatnya 11.9 km di titik 6°59’33.72″ S, 107° 08’13.83″E – 955 m dpl) aspal halus berkelok nan rindang dengan pepohonan jalan raya Cianjur-Cibeber, relatif sepi, dillewati angkot, truk, kendaraan pribadi dan motor. Jalan menanjak dengan elevasi yang lebih dari cukup untuk sekedar pemanasan. Terlihat, Sang Atlit memulai cadence dengan rpm tinggi, kemudian mengurangi cadencenya dan memulai tidak dengan gowes ala syaiton yang melesat dengan cadence rendah tanpa memperhatikan cara bernafas yang baik, hal yang sangat natural bagaikan mesin diesel yang makin lama makin panas. Kunci kesuksesan dalam menaklukan tanjakan, adalah menjaga stamina dengan pengaturan pernafasan yang tidak dipaksakan. Ketika kombinasi cadence dan pernafasan yang tidak harmonis terjadi, setiap tanjakan tidak akan bisa dinikmati. Jantung berdegup keras, nafas terengah engah, dan ototpun menjadi sakit.

Anak-anak muda sebagai regenerasi meluncur di depan menemani Sang Atlit, siapa mereka? Sir Inu, Sir Tutus, Sir Madro di temani oleh generasi tua macam RC, Sir WJ, Sir Djo dan Sir Tono yang mulai merasakan sensasi lemasnya tubuh karena dehydrasi. Meskipun mendung, tanjakan ini membuat tubuh-tubuh kami memanas. Aku menempati posisi di belakang Sir WJ,  yang mengintili RC, fokus akan konsistensi cadence dan bernafas serelax mungkin dan setiap waktu selalu melakukan posing. Apakah tanganku terlalu tegang? apakah pinggangku terlalu kaku, apakah nafasku terlalu dipaksakan? Mencoba relax, serelax mungkin dan tetap fokus, sambil sesekali menikmati keindahan alam Cianjur. Dari sekian banyak track tanjakan, kali ini aku dengan merasa enak bisa menyalip RC. Dan hal ini sangat jarang terjadi denganku.Tanpa rasa menyesal, dan sama sekali tidak ada ritual jorok tepok pantat, aku memacu gowesanku. Terlihat Sir Madro dan Sang Atlit kembali meluncur ke bawah untuk menyapu peserta yang tertinggal. Cukup perkasa mereka, hanya ada satu kata untuk mereka : KAWIN! Kalian terlalu lebih mempunyai energi cadangan.

Tiba di pit stop pertama, bersama RC dan Sir WJ kami menempuh perjalanan hampir 1 jam lebih. Kalau dipikir-pikir, track ini jaraknya hampir sama dengan Sentul Belanova ke Bojongkoneng km 0, hanya saja perbedaan elevasinya yang lebih besar. Sambil cooling down, aku membeli beberapa energi supply dan ber ha ha hi hi dengan Anuer yang satu persatu mulai menunjukan batang cranknya. Etape pertama dalam ehahulahi, masih tersedia tenaga untuk ehahulahi kedua, ketiga dan seterusnya. Ini benar-benar perjalanan yang akan memberikan multi ehahulahi.  Terdengar sayup-sayup azan Dhuhur, semua Anuers sudah tersapu naik di pit stop pertama. Kami melaksanakan kewajiban kami kepada sang Pencipta dan berdoa di surau sebrang warung tempat kami mengaso, semoga kami diberi lindunganNya selama dalam petualangan ini. Sementara itu cuaca mulai mendingin ditambah hujan rintik-rintik.

Kita cukup lama melakukan pemberhentian di titik ini, dan perjalanan baru kita arungi 1/5 nya. Hal yang membuat kami excited untuk etape berikut adalah, track kebun teh rolling naek turun, makadam, tanah, sangat technical, rock’n roll baby yeah! Next etape is ehahulahi at Cikondang Waterfall.

 

The Amazing Tea Carpet

Setelah semua cukup istirahat -hampir 45 menit- dan mengisi perbekalan jasmani dan rohani, kira-kira jam 1 kurang 15, kita meluncur kembali ke jalur jalan raya,  beberapa ratus meter kemudian belok kanan di titik (6°58’46.77″ S, 107° 06’10.02″E – 979 m dpl), menuju medan off road. Memasuki perkampungan dengan jalan tanah berbatu menuju perkebunan teh Cibeber. Kiri kanan rentetan rumah dan senyum ramah penduduk kita lewati. Cuaca hujan rintik-rintik dan udara pada ketinggian 900 m lebih di atas permukaan laut membuat beberapa peserta kedinginan, beberapa dari mereka memutuskan untuk memakai jaket hujan. Buatku, gowes di bawah hujan adalah nikmat tersendiri.  Jaket hanya dipakai ketika udara sangat dingin saja. Wush..wush..para Anuers memacu sepedanya menuju ehahulahi berikut. Hari menjauhi kemudaannya, dibenak ku terngiang selalu : we have the time of the world for this amazing adventure so just forget it and enjoy this! Di titik (-later added-) kami berhenti karena ada pertigaan,  kami regrouping lagi dan mengambil jalur ke kiri menuju indahnya kebun perkebunan teh cibeber. Jangan kalian katakan bahwa perkampungan kaum Hobbit di Bag Ends lebih indah, perkebunan teh ini jauh lebih indah dari itu. Hamparan permadani teh ciptaan Sang Maha Kuasa. Rumah Bilbo Baggins pun terlihat cemen ketika melihat gubuk2 dan rumah yang tertata memandang  kami dari kejauhan  beriringan berpacu  menuju Curug Cikondang. Lepas dari jalan perkampungan, sambil regrouping, kami mengambil single track memasuki hamparan hijau perkebunan teh (7°00’55.45″ S, 107° 06’49.07″E – 1019 m dpl).

Delapan belas orang beriringan, terengah-engah, keringat mengucur deras, menanjak dan menurun di antara hijau hamparan teh bagaikan permadani yang melebar sejauh mata memandang, di bawah cuaca mendung dan rintik hujan. Tanjakan dalam jarak pendek dengan bentuk makadam, tanjakan landai panjang makadam, tanjakan tanah yang licin campur batu makadam, atau tanjakan makadam berair, tanjakan berumput yang licin, perosotan tanah, perosotan makadam..you name it…all of this are available. Mereka memacu gowesannya seperti the Fellowship of The Ring di kejar-kejar oleh Saruman dengan angin,badai, runtuhan batu es.

 

 

Tidak lupa pula kita mengambil momen-momen indah untuk sekedar menarik nafas dan narsis ria, sebagai dokumentasi dan juga bentuk propaganda yang efektif untuk GI-DAHism bagi Anuers yang sedang duduk manis ber JT-ism. Semua ini dalam rangka makin mengkristalkan bentuk DL-ism yang sesungguhnya. Menurut sejarah pergowesan Anu, pada periode awal jaman pra sejarah Anuers, dokumentasi adalah hal yang sangat terlarang. Sehingga kami sering iseng menjahati paparazzi, banyak kasus kejahatan di mana para paparazzi, tiba-tiba bannya kempes atau putus rantai (Catatan : kejadian ini tidak berlaku buat Sir OT, pada kasus dia, memang itu kejadian yang beneran, bukan dijahati). Dengan sibuknya paparazzi mengurusi sepeda sendiri, sehingga momen memalukan seperti TTB, Ngangkot, Ngojek Becek, Godain Teteh, Kram, Jatuh, Ngedrop were not documented. Nama baik Anuers terjaga dan tidak ada penistaan massal selama satu minggu. Setelah jaman makin terbuka. Ide-ide revolusioner muncul. Para Anuers sepakat untuk selalu mendokumentasikan setiap petualangannya (Ini merupakan pesan tersembunyi RC yang baru punya iTenyom). We encourage this!

Track yang kita lewati seperti track perlombaan XC Race tapi lebih bervariasi. Dan ini lebih capek dibandingkan hanya nanjak di jalur halus macam Gadog – RA. Jam terbang blasak blusuk memegang peranan penting selain tentunya kebugaran tubuh kita. Perpaduan antara kesegaran dan keindahan alam serta adrenalin yang memecut kita untuk memutar crank lebih cepat, konsentrasi untuk selalu berada dalam keseimbangan ketika mengatasi hal-hal teknikal di track, membuat suguhan Sang Pencipta Maha Besar ini bisa lebih kita nikmati dengan maksimal. Di sini juga terjadi kejadian aneh di mana sweeper abadi kita sir OT bercumbu mesra blepotan di tanah dengan sir Madro. Tidak sempat kita abadikan, tapi hal ini cukup membuat kita teringat akan salah satu anuers yang suka mengajak mandi anuers lain, nun jauh di sana, di bekasi  sedang maen gitar mengiringi permainan congklak sir Echa,sir Farid, sir DP dan sir KetAy.

Mendekati jam 14.00, kita menggumuli tanjakan makadam terakhir yang akhirnya berbonus prosotan, menemukan perkampungan kecil dekat sungai yang mengalir menuju Curug Cikondang yang terkenal itu. Perkampungan ini masih terletak di antara spot terbuka permadani perkebunan teh. Serentak semua peserta di pol position terdepan berhenti untuk melakukan pit stop makan siang sambil menunggu semua peserta terkumpul. Warung yang kita pilih adalah  warung Tita (7°01’05.26″ S, 107° 05’47.73″E – 960 m dpl), sebuah warung yang cukup sederhana menjajakan nasi dan lauk pauknya serta jajanan yang lain.

Pisang emas, satu tandan  habis di makan, beberapa buah jagung rebus juga tidak tersisa oleh duet atlit sir Madro dan om Alam, sir Gigs, sudah terlebih dahulu mengambil potongan ayam berkuah dan tahu ditumis dengan cabe, tahu goreng, sambal terasi. Aku berusaha mendapatkan nasi yang tersisa dengan merangsek masuk ke area dapur. Si ibu penjual berjilbab rapi itu, panik luar biasa mendapatkan pelanggan mendadak. “Minta teh manis hangat, bu..”, “Minta kopi bu..”, “Bu, saya minta telor goreng aja 2 biji”. Mereka pikir si Ibu itu punya tangan 10 pasang. Akhirnya nasi habis dan beberapa Anuers tidak kebagian. Untung saja si ibu penjual berinisiatif menelepon saudaranya untuk membawa nasi. Dikarenakan proses penyajian makanan begitu lambat. Sir Chef di asisteni oleh beberapa Anuers mengambil inisiatif, menggoreng telur dan memasak indomie sendiri. Tidak lama kemudian bantuan logistik, nasi satu panci datang. Dan itupun nasibnya sama seperti nasi sebelumnya. Dalam waktu singkat, nasi habis di gares.

Bagaimana dengan sir Kus? Rupanya semenjak di permadani kebun teh, dia telah sukses melakukan beberapa kali kuras isi perut. Dan keadaannya sungguh sangat memprihatinkan. Ini bisa kita jadikan alasan nanti, jika gowes lagi ke daerah ini adalah untuk membersihkan permadani dari kotoran. Di pit stop warung makan itupun tidak lupa pula dia mencoba mematuhi panggilan alam yang sangat provokatif ini. Kebetulan di dekat warung mengalir air sungai  yang cukup deras menuju ke Curug Cikondang. Perlu di tegaskan di sini. Kasus mencretnya sir Kus tidak ada hubungannya dengan event petualangan ini. Lain dengan cerita NR yang membikin mencret beberapa waktu lalu. Hal ini mendapat pengakuan langsung dari sir QQ mahasiswa semester IV jurusan NR.  “Sungguh, ini adalah kesalahan pribadi sir Kus. Event besar ini tidak akan membuat mencret. Kalaupun ada yang mencret gara-gara event ini. Jiaaaahh ada lagi”(Hasil wawancara dengan sir QQ).

 

The  Amazing Waterfall and The Megalithicum Sites

 

Hari telah menuju ke waktu sore, tidak terasa sebentar lagi angka jam menunjukan pukul 15.00. Peristirahatan kita di sini memakan waktu hampir 45 menit lebih. Tidak jauh dari warung Tita, kita menyebrang setelah jembatan lalu naik ke atas lewat jalan setapak  menuju Cikondang Waterfall. Pintu masuk ke curug di jaga oleh akamsi (anak kampung situ) dengan gaya rambut di pirang  sedikit sedikit macam penyanyi duran-duran kelelep di comberan. Uang masuk cukup murah hanya Rp. 3000,-. Sebagian dari kami tetap menunggangi sepeda menuju curug yang cukup curam dan berbatu. Tidak jauh dari pos pintu masuk, terlihat rangkaian pembangkit listrik tenaga air mini. Masih berfungsi atau tidaknya aku tidak tahu. Jalan menurun menuju curug, bagi keturunan susah adalah habitat mereka. Jalan menuju curug berkelok dan cukup lebar kira-kira 1.5 m,  sebagian licin dan berbatu.  Seperti yang telah kalian ketahui, Sir Tutus mencium tanah dengan sukses di tempat ini karena salah posisi dan pengereman. Tangannya sempat terkilir dan Alhamdulillah tidak terlalu parah.

Hanya pujian kepadaNya dalam hati berkali kali ku ucapkan atas keindahan curug ini (7°00’59.57″ S, 107° 05’47.49″E – 951 m dpl). Ketika aku coba mengambil gambar dengan iCeklek, terlihat di display seperti lukisan natural yang sangat indah sekali. Beberapa kali ku ambil moment penting ini. Sengaja aku tidak memotret object manusia Anuers satupun di depan curug. Karena hal itu hanya akan menodai keindahan curug itu. Sepeda dapat di bawa mendekati curug tapi cukup merepotkan dan agak licin. Aku memarkir si Trecky di saung kecil sebelum jalan setapak menurun menuju curug. Anuers, bergembira ria, sebagian mendokumentasikan pose norak norak bergembira di depan curug dengan tunggangan kesayangannya. Tapi tidak ada yang berani mandi, karena waktu sudah makin sore dan juga, kita teringat akan jalur pembuangan anunya sir Kus yang melalui curug itu. Sir Lae, Sir KG,  berpose macam tidak pernah sebelumnya di photo. Andaikan masih ada umur dan anuers sepakat ke sini lagi, aku akan ikut. ….((((((((((Gi dah))))))) -terdengar sayup-sayup orang berteriak berecho-. Damn! GI-DAHism ini semacam terror mental yang kadang-kadang berubah menjadi halusinasi, et dah….

Belum sepenuhnya kami menikmati kepuasan ehahulahi plus sensasi alam ini, kami harus cepat-cepat melanjutkan  perjalanan yang masih relatif jauh. Baru sekitar 21 km tergowes, berarti baru sekitar 40% terarungi. Kami cepat-cepat mempersiapkan diri kembali naik ke atas ke arah warung Tita. Kemudian mengambil jalan yang sama beberapa ratus meter dan di pertigaan pertama kita mengambil lurus menuju…SItus Megalithikum. Tanjakan-tanjakan makadam masih belum berakhir,  menggerogoti stamina kami. Tapi semangat berpetualang tidak mengendorkan upaya kami,  meskipun ada insiden sangat menakutkan, seekor kalajengking menghadang di tengah jalan. Ini binatang favorit Sir Gigs, mecoba petantang petenteng ingin melukai kami. Alhamdulillah rintangan besar inipun bisa kita lalui.

Perlahan tapi pasti odometer menambah angka-angkanya mendekati titik tertinggi yaitu 1126 m dpl pada petualangan kali ini. Aku dan sebagian besar Anuers sudah mulai kehabisan energi. Tersedot di tanjakan berbatu makadam landai manis manja tapi pasti, yang diselingi perosotan yang membuat tubuh mengalami guncangan dan pantat terpukul-pukul dan tergesek-gesek hingga ledes. Sempat kita regrouping sebelum nanjak menuju titik tertinggi. Ku akui untuk trip kali ini, ada beberapa hal yang cukup khas. Selama gowes Anuers merasakan sensasi produksi gas di dalam perut terlalu berlebihan, sehingga beberapa kali dentuman meriam alam terdengar di sana sini.

Kalau tidak nyasar, itu namanya bukan trip menyenangkan. Jika anda menginginkan perjalanan mulus tanpa nyasar, naik jalur angkot saja. Kali ini sandiwara Nyasar Itu Indah (NII) kembali terjadi, RC mulai mengalami kebingungan, hal itu cukup terlihat jelas di raut mukanya yang sedikit hitam kebiruan, ternyata kita telah melenceng dari jalur yang seharusnya..wak waw. GPS RC yang sudah agak linglung dibantu dengan GPS konvensional,  Ganggu Penduduk Sekitar, menyetop semua orang yang berpapasan dengan kita, lalu menanyakan arah menuju ke situs dan menanyakan punya kakak perempuan tidak untuk penduduk yang masih kecil yang kita tanya. Rupanya penduduk yang pertama kita jumpai menunjukan  versi jalur arah menuju situs, merosot , lalu nanjak makadam dikit, merosot lagi  sampa  ke ketinggian 831 m dpl. Yaitu bagian bawah dari situs. Petunjuk ini kita ikuti pada awalnya. Ketika masih dalam kegalauan yang sangat dan berada di puncak meregang otot menaklukan tanjakan makadam sebelum merosot, ada seorang kakek kakek membawa kayu bakar menghadang kita. Si kakek berkata : “Upami ka situs mah tiasa nyandak jalan satapak di handap”.  Wow, dengan mengucapkan terima kasih dan balik badan kita kembali merosot ke bawah sedikit dan mengambil jalur ke kiri, single track yang sebelum tanjakan kita lewati sebelumnya, jalur ini sangat maknyus, melewati rumah,perkebunan penduduk, dihiasi rindangnya pohon bambu, tegalan sawah dan pinggiran tegalan tanaman singkong. Justru jalur inilah yang sangat nikmat… blessing in galau. Karena dengan jalur ini kita menobatkan diri sebagai , The first nuts, who bring bikes directly to the sites! Tidak seperti goweser lain sebelumnya yang memarkir sepeda di bawah, lalu naik susah payah ke atas ke ketinggian 908 m dpl dengan jalan kaki. Never happen before something like this…

 

More on the Megalithicum Sites, The Sundanese Tribe and Anuism

 

Seperti yang sudah di singgung di paragraph pertama tulisan ini, situs ini sudah ada sejak jaman prasejarah (2500 – 1500 SM : http://www.pikiran-rakyat.com/node/176359), jauh sebelum kerajaan-kerajaan besar di nusantara berdiri. Negeri kita ternyata mempunyai peradaban di masa itu. Mesir, China, Yunani, Babylonia, Romawi, Persia dan seterusnya sebagai pioneer peradaban yang terdokumentasi. Tapi di negeri ini dokumentasi tentang situs ini masih minim. Dan pertanyaan besarnya adalah, kenapa ini di temukan di tanah sunda? Bukan bicara masalah suku. Tapi fakta sejarah yang ada. Apakah suku pertama di jawa itu suku sunda semua? Sebelum datang orang-orang dari Yunan, daratan china ke nusantara?

Jika dihubungkan dengan pengalamanku di Ciptagelar, kita bertemu dengan orang Indonesia yang lahir dan besar di Amerika sana. Dia kembali ke tanah air dan bergabung dengan komunitas paguyuban Ciptagelar. Ketika saya bertanya : “Kenapa akang mau hidup seperti ini?” Dia menjawab : “Saya mempunyai mimpi untuk hidup tenang bersama keluarga saya di pegunungan. Itu obsesi saya sejak kecil. Ketika saya mencoba mencari tahu, dari mana saya berasal. Saya menemukan bahwa saya berasal dari sini. Dan rupanya panggilan jiwa saya untuk hidup di pegunungan itu, ternyata terjawab dengan dari mana saya berasal”. Jawaban ini membuat aku bingung sebenarnya. Kemudian dia meneruskan : “Kalian semua juga keturunan dari sini semua, terlihat dari bentuk kuku-kuku kalian”.

Konstelasi, penulisan sejarah negeri ini masih carut marut. Jangankan untuk berkonfrontasi dan mengambil hikmah seperti bangsa jerman dengan sejarah hitamnya nazi di perang dunia II, dan di sini mungkin sejarah kelam G30SPKI untuk hal-hal yang baru berlalu saja, seperti tragedi Mei 1998, kita masih blank, apalagi situs ini.

 

Terletak di ketinggian 908 m dpl, seluas 150 Ha (ibid) -meskipun luas undakan teratas batunya hanya sekitar 3 Ha- di titik (6°59’34.62″ S, 107° 03’19.55″E). Kami bisa memandang jauh ke sekeliling desa Karyamukti, bahkan lebih jauh dari itu. Angin semilir dan hari yang sudah mendekati maghrib, terasa menyejukan jiwa-jiwa kami yang penat. Setelah menempuh jarak gowes hampir 30 km, semua kepenatan, kesemutan, kegalauan terbayar, ini adalah the climax  of our adventure, ehahulahi terbesar. Batu-batu undakan yang sudah berantakan, berlumut dan berbercak-bercak, rumput hijau terhampar di antara batu-batu. Mistery apa yang tersimpan di situs ini, tidak sepenuhnya terjawab, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. Masing-masing dari Anuers menerawang dengan khayalan imajinasi sejarah situs ini. Tidak lupa pula sambil bernarsis ria memotret sana-sini. Sang Kuncen dengan sabar menceritakan kami cerita yang di campur mythos. Seperti tentang batu-batu yang mepunyai cetakan tapak harimau, batu memanjang seperti potongan batang pohon yang dibelah dua, yang menurutnya adalah berfungsi sebagai alat musik sitar dan seterusnya.  Situs ini dirawat oleh kerajaan-kerjaan yang datang silih berganti. Dijadikan sebagai tempat pertemuan agung. Layaknya seperti di cerita fiksi Tolkien, the council of elrond dalam saga the lord of the rings. Ketika persekutuan terakhir kaum elves, manusia dan dwarf serta wizard di kukuhkan untuk memusnahkan the one ring membentuk the fellowships of the ring.

   

Anuers, juga sepakat menjadikan tempat ini sebagai situs inaugurasi pengklenengan bagi siapa saja yang menurut mereka cukup pantas untuk mendapatkan klenengan. Bukan melihat mistisnya, tapi upaya untuk mencapai situs ini cukup berat dan layak sebagai ujian terakhir materi kuliah Anuism. Hanya kepadaNya the one and only kita menyembah.

 

Klenengan hanya simbol persahabatan dan pencapaian. Bukan untuk dibanggakan dan exclusivism. Penganugrahan klenengan terbuka bagi Robekers yang berminat, dan mempunyai jiwa gila seperti RC bermata hitam legam. Melalui ujian yang cukup berat. Nanjak Gadog – RA di bawah 2 jam, mengikuti  event anu minimal 5 kali dalam setahun, pernah century ride, rajin b2w, pernah tidur di welcome, anti sun blok, lucu dan tentunya harus suka nanjak. Di hari itu kita menyematkan 4 klenengan kepada peserta ujian, Sir Lae Sahat, Sir Tutus BetterThan Titus, Sir Inu Ehahulahi dan Sir Madro Biskwit Toblerone Kabel Roll.

 

The Rail Road and The Finish

Menjelang maghrib, kami turun dari situs melalui tangga dari beton, berkelok sambil TTB. Tangga ini cukup bagus dan rapi, di sampingnya di buat pagar dari pipa besi bercatkan warna hijau tua sebagai tempat tangan untuk berpegangan.  Kami turun ke titik 831 m dpl, diiringi rasa bersyukur dapat mengambil jalur yang tidak umum, sehingga sepeda kami bisa kami bawa ke situs, kalau tidak, kami terpaksa memarkir sepeda di bawah dan naik melalui tangga ini.

Ketika sampai di bawah, orang-orang terheran-heran dengan rombongan kami, karena baru pertama kali mereka melihat sepeda di bawa turun oleh 18 orang dari atas ke bawah. Di sana kami beristirahat sebentar, sementara itu azan Maghrib telah berkumandang. Anuers melengkapi dirinya masing-masing dengan membeli energy supply dari warung dekat pos masuk menuju situs. Karena hari menjelang malam, kami mulai memasang lampu penerangan. Dengan mengucapkan bismillah, kami tinggalkan situs yang sangat menakjubkan itu.

Perjalanan pulang selalu menjadi kurang begitu menyenangkan, tapi apa boleh buat hal itu harus kami jalani. Enam kilometer kedepan, track akan melewati perumahan penduduk, perkebunan teh dengan medan rolling, naek turun. Aspal, makadam, nanjak turun. Beruntungnya, sebagian besar jalannya sudah di aspal halus.  Dan 14 kilometer sisanya kami masih belum tahu tracknya, yang jelas jalur itu berada dekat dengan rel kereta api kalau dilihat dari GPS. Sejak turun dari situs kami mengalami sensasi dengkul gemetaran, karena udara dingin. Di persimpangan jalan, sambil regrouping dan bertanya kepada penduduk sekitar mengenai arah menuju Cibeber, jaket-jaket kamipun menyelimuti tubuh kami yang kedinginan.

Arah pulang telah melenceng dari jalur GPS. Turun dengan kecepatan sedang dalam kegelapan, sensasi kelap kelip di Gunung Padang, di tengah kekhawatiran nyasar ke arah yang tidak tentu . Akhirnya kami mentok di perkampungan dengan single track jalan semen merosot di antara rumah-rumah penduduk. Setelah itu kita melewati jalur tanah dan menyebrang jembatan menelusuri pinggiran dinding terjal.

Tidak berapa lama kami tiba di jalan setapak menanjak menuju rel kereta api. Setelah tiba di atas, terlihat samar-samar bentangan rel kereta api yang dipenuhi batu lepas sebagai penguat bantalan rel. Kami kembali regrouping, setelah semua siap, kita mulai gowes di samping rel atau di antara rel dengan sensasi yang sungguh berbeda.

Batu lepas, i hate it! Larsen TT sebagai ban terbaik di dunia tidak mampu memberikan gigitan yang mumpuni. Beberapa kali aku hampir hilang keseimbangan. Di tambah suasana gelap dan hembusan angin malam yang cukup kencang. Di sisi kiri  kanan kami kadang kami temui perumahan penduduk selebihnya gelap gulita hutan biasa di terangi sinar rembulan yang temaram. Ekstra hati-hati kami terapkan ketika melewati single track pinggir rel yang sebelah kirinya jurang. Tidak kita ketahui pasti berapa dalamnya. Dengan keseimbangan yang terganggu akibat ban yang tidak cocok untuk batu lepas, aku beberapai kali sempat terhenti dan merinding ketika melewati single track ini.

Iringan kelap kelip cukup menarik perhatian penduduk sekitar di iringi bunyi klenengan yang nyaring di kesunyian malam. Sensasi lain yang kita alami yaitu fenomena alam medan magnet. Aku sendiri tidak menyadari ini, tapi sebagian besar Anuers mengatakan hal itu. Ada yang mengalami seperti rasa mabok. Sepeda tidak perlu di gowes tapi melaju kencang. Mungkin konsentrasiku pada saat itu lebih ke menjaga keseimbangan sehingga sensasi ehahulahi di medan magnet tidak begitu kurasakan.

Aku tidak begitu menikmati gowes di sepanjang rel ini, ingin cepat-cepat mencapai perumahan penduduk yang mempunyai jalan biasa menuju ke stasiun Cibeber. Tiga kilometer sebelum stasiun, akhirnya doaku terkabul. Beberapa penduduk desa, menyarankan kami mengambil jalan ke kanan menuju stasiun. Sungguh melegakan.

Wussshhh…menuju finish. Anuers gowes macam kekambingan. Saling balap membalap dan menyalip. Sementara aku, menikmati akhir dari petualangan ini. Alhamdulllah kami telah diberi keselamatan olehNya, tanpa ada kejadian yang mengkhawatirkan selain orang mencret sepanjang jalan dan beberapa penciuman bumi dengan sukarela.

Kami tiba di stasiun Cibeber sekitar jam 8 malam. Dan secara keseluruhan petualangan kali ini di tutup dengan makan bersama di salah satu restoran di daerah cipanas. Pulang ke Bekasi ke rumah masing-masing, rata-rata sampai jam 1 malam lebih. Gowes apa ronda! (Nte Anisa – Sir Pram : 2012).

Berikut trek yang kita lalui

3_10_2012 gnpadang