Race day 10 April 2011 : Masturi

Aku terjaga jam 4:30 Kebelet kencing! Terlihat anuers lain masih bergelimpangan. Om Eep lucu banget tidurnya melingker kaya bayi dalam kandungan. Cuma bedanya yang ini gondrong dagunya. Demi menjaga performa, kali ini kita tim anu Robek memang bermalam di Bandung, tepatnya di .. ehm … hotel Horizon. Maklum tim elit. Gak lama, yang lain satu persatu bangun, subuhan, MCK, dan persiapan peralatan tempur.
Jam 6:30 kita sarapan buryam dan tahu petis dulu di depan hotel. Aku pilih aman aja dah, buryam. Makan petis pagi2 takut perut berontak. Sekitar setengah jam kemudian, kita sudah sampai di jalan Braga, tempat race dimulai. Whuih, meriah euy. Mungkin cocok dibilang Bhinneka Tunggal Ika. Artinya, jersey beraneka warna, helm beragam model, sepeda beragam merek (rata2 hi end), tapi semuanya satu: BETISNYA SEXY SEMUA!
Eniwei, kita disuruh berbaris jejer ke belakang. Gerombolan paling depan konon para atlit roadbike dari kelas senior. Lapisan kedua adalah kelas MTB open, yang didalamnya bercokol para atlet dan mantan atlet juga. Lapis ketiga (katanya) untuk community race. Disinilah kita, para anuer robek yang nekat ini, berkumpul. Saking banyak orang, sebenernya aku gak tau apakah kita berada di kelompok yang benar. Terutama untuk Sir Kris, WJ dan Rambow – kalo emang MTB open di kelompok kedua, , mustinya pan kalian disana? Ah, sudahlah, lieur. Sambil nunggu sambutan2, kupandang sekeliling. Alamak, penerawanganku, 80% peserta pake road bike. Mingkinan goset semua nih. Aku bersyukur akhirnya memutuskan pake Trekky sir Apip, yang tongkrongannya cakep banget. Paling nggak, spek dan settingannya emang buat nanjak lah. Aku gak tau apa yg dipikirin Sir Imen dan Sir KG, yang jelas mereka saltum tuh: mau nanjak kok pake pulsus hahaha wong etdan.
Sebelum race dimulai, panitia sekali lagi mengumumkan bahwa untuk MTB open dan Comm race, balapan akan dimulai setelah km 10, yaitu dari daerah Cimahi. Berhubung gue gk mudeng ama daerah itu, yg aku apalin cuma info dari sir Imen bahwa tempat itu namanya jalan Masturi. Inget, TJ : MASTURI !
Tepat jam 8:05 race dimulai. Sirine mengaung2, semua peserta langsung membejek pedal. Titik race (jl Masturi) masih jauh, tapi sudah terjadi pertarungan urat syaraf. Masing2 berusaha ambil posisi tebaik, ditengah uwel2an sepeda yang melaju kencang. Sempat merinding juga, campur terharu … gile gue berada di tengah orang2 sinting ini.
Sebenarnya dari speednya gak kenceng2 amat. Aku gk pake speedometer, tapi mungkin sekitar 35km/h. Masih cemen lah (nada datar), cuman karena rapet, kita musti waspada supaya gak bersenggolan. Tiba2 terdengar bunyi gusraak, gedebuuk dan teriakan orang2 tepat dibelakang gua. Tampaknya ada yang jatuh atau serempetan dibelakang, gak jelas. Gak berani nengok. Cuma berharap moga2 anuers yg dibelakang terhindar dari insiden itu.
Kita gowes terus, posisiku waktu itu sekitar 10m dari orang yg terdepan di kelompok ini. Disitu kulihat bahwa ada oficial bersepeda motor yang ngejagain supaya kelompok kita nggak bercampur sama kelompok di depan. Gak tau lagi deh, itu kelompok apaan. Yang jelas kesetanan semua.
Anyway, disekeliling masih ada Sir KG, Rambow, WJ, dan Wak Lutfi.. Sekali waktu kita lewatin fly over, Wak Haji langsung komentar: berasa di Casablanca. Hahaha. Dan tiba2 om WJ teriak: Woooi lama woooi. Hahahaha lagi. Etdan.
Rute sejauh ini masing relatif datar2 aja, tapi seringkali harus bermanuver menghindari angkot dan motor yang lagi menepi. Jalanan memang gak ditutup, mereka cuma disuruh menepi saat rombongan lewat. Belok-kanan, kiri, kuikut arus aja, gak peduli dimana.Bukan apa2, aku gak apal ama Bandung. Setiap masuk mulut jalan, kupelototin plang namamya, apakah Jl. Masturi apa bukan. Oh, Masturi…
Setelah beberapa saat, tibalah pertemuanku dengan si Masturi. Ah, disini kau rupanya. Motor official yg didepan bergerak minggir. Menurut bocoran profile track, mustinya mulai nanjak nih. Aku mulai ancang2, eh kok kagak nanjak juga. Tetapi peserta satu persatu mulai melesat dan gak bergerombol lagi. This is it, TJ, the time has come! Let’s kick some asses!! Wussssss….
Selang beberapa meter, mulailah tanjakan menghadang. Mulai atur nafas dan posisi gear. Disinilah aku tersadar, ternyata si Trekky ini emang musti di setting dulu Rd nya. Sering terjadi ghost shifting, atau shift yang nggak pas. Tapi ya, itung2 gak papa lah jadi ada ahlesyan. Yang jelas, aku merasa emang gak salah gue minjem HT nya Sir Apip ini. Apalagi dikombinasi ban slick X hibah dari sir Anu. Traksi dan akselerasinya OK. Tinggal atur nafas, dengkul, dan hati2 saat shifting. Setelah sekitar 2km nanjak gak putus2, gue kok mulai berasa perut sebelah kanan sakit. Bah, apa pula ini? Perasaan tadi pagi cuman makan buryam, sambelnya dikit. Semalem aja om Rambow ama Om Eep makan sambel bebek goreng gue gak berani nyolek kok. Sempet ngeluh ke sir KG, eh dia bilang juga ngerasa yang sama. Aneh.
Ah, sudahlah. I’ve reached the point of no return. Desyow mas go on kalo kata Unang.
Nanjak terus, terus, terus… sakit di perut berangsur hilang. Tinggal napas mulai satu-dua. Anuers mulai tercerai. Sir Kris kuliat jauh didepan. Terus ada Sir Adi, kira2 10m aja dariku. Wah, tumben nih, pikirku, kok si Adi nggak ngejabanin si Kris di depan, dan hanya beberapa meter didepan gue. Kemungkinannya cuma dua: dia lagi nggak perform, atau emang diriku yang gowesnya lagi edan nih. Hahaha. Kenyataan ini, ditambah keyakinan bahwa anuers lain masih dibelakang, memberi angin segar bagiku. Berasa melayang di awang2 hahha lebay.
Belum lama menikmati kebahagiaan itu, tiba2 seseorang merusak suasana. Buyar semuanya. Seseorang berbaju putih, celana komprang, sepeda abu, dan berjenggot menjuntai dengan teganya menyalibku. Betul: SIR EEP!! Bocah ngganteng ini dengan santainya cuma berucap, “mari om…”.
Mari endasmu! Perusak kebahagiaan orang! Aku disalib sama aki2?? Tapi disitu aku mulai mikir, wah jangan2 terlalu terlena nih. Ya udah, mulai deh coba berakselerasi lagi, walaupun tanjakan gak putus2. Hasilnya, gak lama kemudian aku bisa nyalib om Adi dan beberapa peserta lain, kebanyakan road bike yang ban dan framenya tipisnya kayak jenggot dibelah tujuh.
Sementara cah ngganteng itu? Dia makin kenceng euy, pelan2 jaraknya menjauh. Sir, aku angkat topi buatmu. Ternyata kegantenganmu berbanding lurus ama dengkulmu. Dan terimakasih karena saat itu tak kau colek p****tku….
Tanjakan demi tanjakan menghadang tanpa ampun. Panas menyengat. Ibarat kata, ribuan kalajengking melata dimana2. Sebenarnya elevasi biasa aja sih (nada datar lagi) mungkin hanya 40 derajat. Wakakaka. Cuma kan ini judulnya race. Harus ngebut. Terus, emang bisa ngebut? Boro2! Paling nggak aku berusaha tetap konstan dan sabar. Peserta disekelilingku mulai jarang. Yang didepan udah gak kelihatan pas belokan. Sementara nengok ke belakang juga gak ada orang. Bah, am I on the right track? Kadang2 terpikir ini kok tracknya kayak pernah lewatin waktu nyeli bareng idFB. Tapi kok ah masa iya? Disinilah berasanya bahwa kalau race sebaiknya kita sudah tau track yg dilewatin, jadi bisa ngira2 kapan harus belok, kapan menyerang, kapan harus bertahan, dan dimana teteh berada…
Sekitar 6 km terakhir, lamat2 kulihat peserta lain nun jauh didepan. Ah, akhirnya… ! Tambah speed, tambah semangat. Jalan mulai berkontur : nanjak, datar, dan kadang turun. Pelan2 peserta didepan tersusul… wah ternyata 1 road bike dan satu MTB Giant XTC biru. Hmm… works for me. Terjadilah aksi saling susul menyusul diantara kami bertiga. Anehnya, saat datar si roadbike malah kesusul, tapi saat nanjak dia bisa nyalib lagi. Begitu seterusnya, gentian memimpin sampai ada tulisan “2km lagi”. Woow, mantab. Saat itu kita bertiga beriringan dan saling mengangkat jempol. Ah, indahnya persahabatan disela persaingan.

Disela pertarungan, tiba2 kulihat ada mobil Livina parker di sisi kanan. Seorang ganteng berbaju merah melambai2 dan berteriak : TJ!!!!
Wow, ada sir Gigs! Gue teriak WOOOOOOII, sambil mengepalkan tinju. Sungguh, seumur umur belum pernah aku segembira ini melihat Sir Gig. Really encouraging. Sambil melesat, aku sempet teriak : berapa kilo lagi??? Tapi malah dijawab: Ada dua anuers di depan!!! Etdah itu mah gue tau.

Pertarungan berlanjut. Kita bertiga menyalib beberapa peserta lain, lagi2 mayoritas roadbike. 1km lagi, 500m lagi …. Tibalah kita di hadapan tanjakan terakhir sebelum finish. Kuambil ancang2, dengan sisa tenaga si Trekky kubejek abis, lewatlah kedua orang itu, dan gak mungkin mereka kejar lagi. Tepat sebelum nanjak aku shifting crank depan. Tapi Crackkkk oh no, gagal shifting dan rante terlepas. Gue berhenti, cepet2 pasang rante tapi percuma, keduanya melewatiku dan tak terkejar. Sementara gue cuma bisa melanjutkan nanjak dengan pelan sekali karena kok tiba2 otot betis serasa mau ketarik. Mungkin kaget karena hentakan saat shifting tadi. 100m jelang finish, seorang panitia masih mencatat nomorku dan bilang, terus pak, dikit lagi…. Dikirikana jalan terlihat goweser yang sudah finish pada nontonin… gue itung kira2 mungkin ada 50-60an orang. Hmmm. Hmmm, cuma ada 60an orang, dan yang pasti mereka berasal dari berbagai kelompok: ada yg MTB open, ada yang Com race U35-40, atau 41-45, 46-50 dst. Artinya? Jangan2 untuk KU gue 35-40, hasilnya not so bad…. 20 besar? Gak tau deh.
Lanjut pelan2 sambil meraba hasil, sayup2 dibelakang ada yg manggil … “TJ, sini kita finish barengan”. Kulihat Sir Imen cengar cengir kuda, dan kitapun gowes bareng melintasi spanduk bertuliskan FINISH. Sir Kris dan Cah ngganteng Eep lagi ngaso di warung pinggir jalan. Kita bersalam2an, dan nggak lama (apa agak lama?) datanglah anuers yang lain : Sir WJ, KG, RAM, Adi, Lutfi (sori urutannya lupa, tapi ah, gak penting). Sungguh membanggakan .. hasil akhir belum tau pasti. Tapi paling tidak, mission accomplished: KMBP TPBT = Kami Mungkin Bukan yang Pertama, Tapi Pasti Bukan yang terakhir. Mudah2an apa yang kami lakukan sedikit banyak membuat robek lebih dikenal, serta memotivasi kami dan rekan2 semua untuk selalu giat gowes, giat B2W, tetap cinta sepeda dan tetap kompak.
Special thanks buat pengurus dan rekan2 robek serta anuers atas doa dan dorongan semangatnya, buat seluruh peserta, Sir, I men, KG, Ram, Lutfi, Adi, Eep, Kris, buat Sir AK atas pinjeman Trekky nya (‘twas a good decision), Buat OT atas pinjaman akomodasi gratisnya (semoga ayahmu gak kapok ya) Sir Gigs and family atas kehadirannya (you’ve got wonderful kids), juga rekan2 yg gak jadi ikut tapi menyumbang sepeda, parts, perlengkapan, dan moril : Om Adit, Om Echa , Om Deejan, Om Fajar, Om Pras, Om Inu, Om Deden, Om AKJ, Om Hirlan, Om Jrots, Om Ade (that’s what friends are for: Ola 2010) om Arab Senna dan rekan2 lain maaf gak bisa saya sebut satu2.
Terakhir, thans to Masturi for being there …
TJ