Kontemplasi Jogja-Bali

Menjadi bagian dari denyut kehidupan kota-kota, dari atas sadel sepeda.

DSC_0310

Pagi itu, 16 November tahun lalu, di Stasiun Tugu, Yogyakarta denyut kehidupan sudah mulai terasa. Para pedagang yang menjajakan menu sarapan, dan petugas perlintasan rel yang baru saja menyeduh kopi, menjadi bagian dari denyut itu.

Dan di sanalah kami, saya dan dua orang kawan pesepeda, Warsono dan Didi Kasim, hendak menjemput sepeda kami. Kami memang “menitipkan” sepeda kami lewat jasa kurir kereta dari Jakarta ke Yogyakarta dengan pertimbangan kepraktisan dan ekonomis.

Kami hendak menempuh perjalanan bersepeda Yogyakarta-Bali dengan satu tujuan sederhana: menikmati dan menjadi bagian dari denyut kehidupan dari kota-kota, menyaksikan dan membandingkan bagaimana kota-kota yang akan kami lewati bertumbuh dengan caranya masing-masing. Dari atas sadel sepeda, tentu saja, tujuan sederhana itu menjelma jadi melankolis.

Kini, kami telah menjadi bagian dari hiruk-pikuk stasiun ini. Di bagian jasa bongkar-muat kargo, stasiun terasa begitu riuh. Suara kotak-kotak paket yang dihempas-hempaskan terdengar tiada henti, dan kerap mengagetkan. Puji syukur, sepeda kami berada dalam keadaan baik-baik saja, seperti saat kami menitipkannya dari Jakarta.

Pukul 8.00, kami mulai mengepak semua barang kami. Saya membawa dua pannier yang disampirkan di kiri-kanan rak belakang sepeda.Satu berisi pakaian ganti, satu lagi perbekalan ringan dan perlengkapan sepeda seperti perkakas (tools), cadangan ban dalam, dan sebagainya. Botol-botol air minum kami penuhkan, meski kami tahu di sepanjang jalan tersedia toko atau minimarket. Bagaimanapun, merasa aman itu menyenangkan.

Selepas berdoa bersama agar perjalanan lancar, hal pertama yang kami tuju adalah…sarapan. Kebetulan, di sepanjang jalan depan stasiun banyak warung soto yang harganya murah-meriah.

DSC_0314Pukul 9.00, dengan perut terisi secukupnya, kami pun mulai mengayuh menuju Sragen, yang merupakan “checkpoint” kami di etape pertama. Lewat Jalan Solo-Jogja, jarak Yogyakarta-Sragen sekitar 98,5 kilometer. Tidak lupa kami sempatkan untuk mlipir ke Candi Prambanan, kurang-lebih 20 kilometer sebelah timur Yogyakarta.

Dalam etape ini, hal paling menarik sekaligus kontemplatif bagi saya adalah menyaksikan budaya bersepeda yang masih begitu kental di sepanjang Klaten. Menjelang siang, anak-anak yang masuk sekolah siang dan yang baru saja pulang dari kelas pagi, begitu ceria menyusuri jalan sambil bersenda gurau di atas sadel. Hilir mudik sepeda juga terlihat di berbagai kalangan masyarakat.

 

Bagi pesepeda seperti saya, pemandangan ini terlihat amat “humanis”, apa lagi jika mengingat begitu kacau-balau dan stressful-nya lalu lintas di Jakarta dengan kendaraan bermotor. Belum lagi polusi yang menggantung di langit-langit kota. Suram.

Menjelang memasuki Kota Solo, hujan deras memaksa kami mengurangi kecepatan. Raincoat yang saya kenakan juga tak kuasa menahan air untuk tembus dan membasahi baju dan celana saya (yang sebetulnya sudah basah juga oleh keringat). Meski begitu, dalam gerimis, kami sempatkan mampir di Keraton Kasunanan Surakarta hanya untuk menemui kenyataan sudah begitu reyotnya bangunan asli keraton. Sebuah indikasi kurangnya perawatan.

Disambut azan magrib, kami tiba di Sragen dengan badan basah kuyup.

DSC_0336 DSC_0334 DSC_0321 DSC_0402

***

 

Esok paginya, dengan tubuh yang sudah segar kembali—meski kaki masih terasa pegal—kami melanjutkan perjalanan menuju Nganjuk, dengan jarak sekitar 115 kilometer.

DSC_0360Jalanan Sragen, lewat pengamatan sekilas saya, terbilang tertib. Pagi-pagi sekali, polisi lalu lintas sudah terlihat sigap mengatur jalan yang memang tidak terlalu ramai. Pengendara mobil dan motor mematuhi rambu dan lampu merah, dan memberi jalan dengan takzim bagi penyeberang jalan di zebracross.

Memasuki Ngawi, saya merasakan brakepad (karet rem) saya sudah menipis dan besinya mulai mengikis rim (velg), karena memang sudah lama sekali tidak diganti. Sialnya, tidak ada satu pun dari kami yang membawa brakepad cadangan. Walhasil, kami mesti mencari toko atau bengkel sepeda terdekat.

Tak sulit mencari, kami pun menemukan sebuah toko sepeda yang terlihat sibuk. Kepada pemiliknya, seorang keturunan Tionghoa yang dengan ramah menerima kami, kami menyatakan ingin membeli brakepad.

Namanya Pak Yong, usia sekitar 60-an tahun. Dengan senyum yang tak habis-habis, dia bilang tidak perlu membeli. Lalu, dia memberikan empat pasang brakepad secara cuma-cuma. “Saya senang jika ada pesepeda dari jauh yang mampir kemari. Terima kasih sudah mau mampir,” katanya dengan logat Jawa yang kental. Saya hampir menangis.

Pak Yong menyempatkan keluar dari tokonya hanya untuk melepas kami melanjutkan perjalanan. “Hati-hati di jalan. Jangan sungkan untuk mampir kalau ke sini lagi ya,” katanya, masih dengan senyum.

Perjalanan Sragen-Nganjuk menjadi salah satu etape terberat bagi saya. Bukan karena jalan yang menanjak, melainkan hujan deras di sepanjang perjalanan. Terlalu lama berteduh berarti semakin banyak waktu yang “hilang”. Karenanya, kami putuskan untuk terus mengayuh pedal meski hujan terus mengguyur dan gelegar petir bersahutan di angkasa.

Sesampainya di Nganjuk sekitar pukul 17.30, hujan agak mereda. Saya mulai bersin-bersin, dan betul-betul ingin segera mandi air hangat. Sialnya, kami tidak mendapatkan penginapan yang nyaman (mungkin juga karena kami sudah terlalu lelah untuk mencari). Di Nganjuk, akhirnya kami tidur sekasur bertiga. “Sekalian saling menghangatkan lah,” ujar Didi berseloroh.

DSC_0371Hujan deras di etape dua dibayar impas dengan cuaca yang menyenangkan di etape selanjutnya: Nganjuk-Jombang-Mojokerto-Bangil, sekitar 110 kilometer. Perjalanan di pagi hari dari Nganjuk ditemani hangatnya cahaya matahari yang bersinar ramah dari timur. Jalan Panglima Sudirman yang lebar, lurus, dan datar membuat perjalanan ini mirip sebuah funbike (walau saya selalu beranggapan bahwa bersepeda selalu fun, apa pun medannya.)

Di kiri-kanan jalan, hamparan sawah yang menghijau dan petani yang sedang mengolah lahan menemani kami. Beberapa dari mereka melambaikan tangan, berucap selamat jalan. Oh betapa menyenangkan.

Sampai Mojokerto, udara hangat berubah menjadi membakar karena kami sampai di kota bersejarah ini tepat siang hari. Meski begitu, kami tetap sempatkan mampir di kawasan peninggalan Majapahit di Trowulan. Sekitar pukul 16.00 kami sudah tiba di Bangil, “kota santri” yang memiliki mi ayam terenak sedunia (versi saya tentu saja).

***

DSC_0374Rute Bangil-Pasuruan-Besuki-Situbondo mungkin menjadi contoh terbaik tentang “perjalanan yang kurang terencana dengan cermat” yang kami lakukan. Betapa tidak? Kami sampai di Jalan Raya Paiton tepat ketika matahari tegak lurus dengan kepala. Pengukur suhu di perangkat GPS Didimenunjukkan angka 42˚C! Entah berapa botol air kami minum dalam etape ini.

Dalam kelelahan yang sangat, saya berkali-kali merenung soal perjalanan ini. Pertanyaan “kenapa saya melakukan ini?” terus-menerus melintas dalam benak saya. Hingga sekarang, pertanyaan itu tak kunjung berjawab.

Akan tetapi, anehnya, keinginan untuk bersepeda justru semakin kuat, bahkan selalu ingin lebih jauh lagi. Mungkin benar kata David Scott, kepala misi Apollo 15 pada 1971, yang mengatakan bahwa “ada kebenaran fundamental dalam alam kita—manusia mesti menjelajah.”

Menuju Situbondo, indahnya pemandangan pantai terus-menerus menyertai kami. Akhirnya, di Pantai Mlandingan, kami pilih rehat sejenak menikmati keajaiban alam ini sambil menyeruput es kelapa segar.

DSC_0391 DSC_0390 DSC_0393 DSC_0385

***

Setiap kali bertemu dan berbincang dengan warga di tempat-tempat kami singgah untuk beristirahat, selalu ada yang bertanya “apa misi perjalanan ini?” dan pertanyaan sejenisnya. Begitu pula saat kami sedang sarapan di pasar Panarukan, dalam etape Situbondo-Ketapang.

Sekelompok pria terlihat sedang asyik mengunyam pisang goreng dan menyeruput kopi susu. Saya menghampiri mereka sambil memperkenalkan diri. Di ujung percakapan, mereka pun bertanya: “ini misinya apa mas?”

Terhadap pertanyaan itu, saya selalu menjawab, saya pribadi tidak mengemban misi apa-apa. Tidak bolehkah kita having fun, menghabiskan waktu dengan cara kita sendiri-sendiri? Bayangkan betapa semakin beratnya perjalanan jika di pundak kita dibebani misi-misi. Dengan penjelasan seperti itu, biasanya mereka mengiyakan dan setuju.

DSC_0236Menuju Ketapang, alias persinggahan terakhir di Pulau Jawa, kami mesti membelah Taman Nasional Baluran di Jawa Timur. Terlepas dari begitu teriknya matahari saat itu, Baluran dengan pepohonan yang sedang meranggas begitu mirip Afrika. “Jika tidak diberitahu, siapa pun akan menyangka kita sedang touring ke Afrika jika melihat foto kita di sini,” kata Warsono. Kami tertawa bersama.

Ketapang adalah destinasi yang terasa begitu jauh, mungkin karena jalan menuju ke sana berlubang, sehingga menambah tekanan pada emosi dan otot-otot kaki kami. Selain itu, buat saya, ada semacam efek psikologis untuk sesegera mungkin beristirahat dalam perjalanan di kapal penyeberangan, lepas dari sepeda.

Pada titik ini, saya mulai merasa muak dengan sepeda saya sendiri. Dalam mata yang terpejam sepanjang perjalanan menyeberang, saya tahu bahwa saya salah. Saya ingin segera menggowes lagi.

***

DSC_0253Sebelum memulai perjalanan ini, kami selalu berpikir bahwa etape Bali, alias etape terakhir, adalah etape “gowes cantik” alias gowes santai. Kenyataannya, rute Gilimanuk-Tabanan-Kuta, yang sebenarnya bisa kami tempuh dalam sekali jalan, terpaksa kami bagi dua. Tersebab jalan yang naik-turun-naik-naik-naik tiada habisnya, energi kami habis di Pantai Soka, Antap, sekitar 80 kilometer dari Gilimanuk. Padahal, hari baru pukul 14.00.

Namun, banyak hal di etape ini yang mampu membayar kelelahan kami. Pemandangan persawahan sengkedan yang tidak bisa lagi ditemui di Jakarta, untaian janur di mana-mana, sekelompok ibu-ibu yang berbaris di sisi jalan membawa persembahan untuk upacara adat (gebogan), dan, tentu saja, gadis Bali yang cantik-cantik, adalah mahar bagi rasa lelah kami.

 

Di Kuta, finish line, kami disambut gerimis tipis. Kebetulan kami tiba tepat pada jam makan siang. Ayam Betutu Pak Man pun seakan-akan memanggil kami.

Kami bertiga bukanlah pesepeda jarak jauh profesional. Saya hanyalah seorang wartawan yang setiap hari bergulat dengan pekerjaan. Begitu pula dengan Didi dan Soni. Sepeda saya adalah moda pengganti kendaraan bermotor untuk berangkat kerja (kerap kali, saya berangkat ke kantor bersama rekan senasib lain, yang tergabung dalam komunitas Robek, Rombongan Bekasi).

Buat saya, pencapaian ini bukanlah soal pertaruhan gengsi soal kemampuan bersepeda atau kompetisi. Di sisa jatah cuti, saya hanya ingin bersenang-senang sekaligus menjadi bagian dari denyut kehidupan kota-kota lain, berbincang dan berbagi cerita dengan orang yang tidak kita kenal.

Sepanjang perjalanan dari kota ke kota, saya pun diberi kesempatan untuk mengamati dan membandingkan mana kota yang perkembangannya pesat, mana kota yang jelas tertata, dan mana kota yang terbengkalai. Saya belajar banyak soal geografi, dan sosial-budaya di tempat-tempat yang kami singgahi. Dan, saya ingin lebih banyak belajar lagi.***

DSC_0409 DSC_0410 DSC_0295 DSC_0292

 

#penulis tergabung dalam komunitas Bike to Work ROBEK (Rombongan Bekasi ) dan sehari hari bekerja sebagai wartawan di National Geographic Traveler.