Hujan turun deras, jalanan pun tergenang air dimana-mana. Penderitaan datang bagi pengendara kendaraan bermotor yang harus parkir masal di jalanan Jakarta, terutama bagi pengendara roda 2 yang tak bisa berkutik dari tempatnya kehujanan.

Sementara itu, seorang pengendara sepeda melenggang dengan tenangnya menembus hujan, dengan senyuman dibibirnya, menggowes, mengangkat sepedanya ke trotoar ketika tersendat, berjalan bersama para pejalan kaki, turun kembali ke jalan, lanjut menggowes hingga lepas dari kemacetan.

Ratusan pandangan iri melihat kenikmatan yang dialami sang penggowes yang berjalan kadang sambil tertawa tiwi dengan rekan sepenggowesannya.

“Mas, ngak takut kehujanan ?”, sebuah pertanyaan standar kalau bicara gowes dan hujan.

“Ah mas, hujan kan air, saya gowes cari keringat, keringat juga air, ngapain takut air ? Entar sampe rumah mandi malah lebih seger, apa lagi kalo sebelumnya menegak suhe hangat. Serasa surga dunia pindah ke SK deh. Mari mas duluaaann ……”.

Sejam kemudian, sang goweser telah asik makan malam bersama keluarga di rumah sementara yang bertanya masih harus berjuang untuk bisa pulang.

“Wah, mas saya masih terjebak macet nih”, begitu kata pengendara kendaraan bermotor itu di telepon kepada sang goweser yang setelah mandi dengan air hangat kini telah menyelesaikan makan malamnya.

*Sebuah ilustrasi