Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik beberapa hari ini, “bolehkah mendengarkan musik ketika bersepeda ?”

Beberapa hari lalu ketika sedang bergowes sendirian untuk pulang saya bertemu dengan seorang robeker. Tampak dia didepan bersiap-siap melewati lampu merah di depan sana. Segera saja ku kejar ku jajari dari belakang.

Seperti tradisi yang sudah sudah, bel pun dibunyikan berkali-kali. Tak jua mampu menarik perhatiannya, di tambahkan di antara bel ter tersebut teriakan, “Om… om”, dari intensitas rendah hingga tinggi, hingga volume suara sekuat tenaga ternyata tak mampu jua menarik perhatiannya.

Seratus meter lebih sudah terlewati, bel dan teriakan tak mampu menarik perhatian dari jarak sepeda HANYA 1 meter saja !!! Akhirnya diputuskan untuk mensejajarinya, karena saya berkeyakinan bahwa, “ada earphone menyumpal telinga“.

Bayangkan seandainya ada yang nyoba nyegat, “Om … om sebagai goweser ke 10 yang lewat sini, om berhak mendapatkan sebuah IBIS MOJO SL-R dengan groupset XTR, Shock RP-23, Fork FOX Talas 36 RLC “, dan si om ngak denger, jelas rugi kaaaaaan !!! Apalagi kalo itu adalah teriakan sekencang-kencangnya dari bis kopaja yang rem-nya blong.

Mendengarkan musik ketika bersepeda menurut saya cukup mengasikan. Bisa menemani perjalanan sendiri nan sepi di malam hari. Tapi musik yang terlalu keras membuat kewaspadaan kita sedikit menurun. Padahal sebagai pengguna jalan minor, kita perlu ekstra waspada di jalanan jakarta yang kejam ini.

Jadi demi keselamatan bersama, aturlah volume suara musik anda agar anda masih mampu mendengarkan suara-suara di sekeliling anda.

Ingatlah selalu…. ada yang mengharapkan anda tiba dirumah dengan selamat