Century Ride Tasikmalaya-Pangandaran 5-7 Oktober 2012

Cerita ini ditulis sesingkat mungkin, untuk menghindari banjir ngeces para JT-ers di gerombolan ntuh, yang mungkin membaca sambil koprol dan jedotin pala ke tembok. Dengan alasan yang sama, cerita terbagi  menjadi 15 paragraf yang sederhana, tidak dibuat2, dan cenderung bernada datar, namun tetap mempertahankan kes***ongan ala ANU. Lalu kenafa 15? Karena sudah tertulis di lauhul mahfudz (AK: 2012).

 

Seperti biasanya, tujuan trip gerombolan Anu-Robek nggak pernah ketahuan. Demikianlah sekonyong-konyong tanpa wangsit yang jelas, di  awal bulan September RC menohok kita dengan ide CR Tasikmalaya-Pangandaran, dengan tagline gowes santay plus leyeh2 di pantay sambil makan satay (sekarang gue baru tau ini tagline (lagi lagi) bo’ongan).  Sejak saat itulah persiapan matang dilakukan, stratehi diatur, exit permit diurus, dan list peserta mulai beredar. Dan sejak saat itu pula waktu seakan merangkak sangat pelan namun penuh makna, laksana gemetar putaran dengkul  tatkala menanjak grade 36D di event Papandayan tempo hari,  muncung Monteng. Ahh, masa lalu yang indah.

 

Pada awalnya trip ini dirancang untuk menjadi trip yang sangat brutal. Walaupun kontur track yang dilalui cenderung flat (isn’t the world is flat?), rencananya kita akan melibas 170km dalam waktu 7 jam, tanpa mobil pengiring (evak – atau bahasa jawa kromonya transfer). Itu makanya diawal hanya kelompok internal anuers saja yang rencananya berangkat. Bukannya congkak atau sombong,  tapi ini untuk kenyamanan dan keamanan bersama. Lagipula kalau dijalan ada yang wanprestasi, celaannya minimal 2 minggu. Plus disuruh gulung dinamo sambil makan jagung dan jambu monyet.  Belum lagi foto2 mesumnya bakal beredar di seantero dunia cyber. Syukurlah akhirnya disepakati trip ini lebih santai dan juga terbuka bagi teman2 robekers  lain yang berminat. Kami menyebar undangan via burung merpati, tapi rufa2nya banyak merpati yang ingkar janji, nyasar entah kemana – mohon maaf. Jadilah pada H-1 tersusun list 33 orang pemberani yang siap berangkat.

 

Pretengseng is the indispensable part of the game. Inilah seni dan sensasi (kalau gak bisa dibilang sisi gelap) trip ala Anu. Seinget saya, ini trip yang paling pretengseng full. Salah satu topik paling pretengseng dalam trip kali ini adalah PANNIER, atau bisa juga ditulis penir. Maka terjadilah rush yang berujung pada kelangkaan rack berikut tas pannier di seantero RL.  Saya dengar, harga saham Topeak di bursa meroket, disaat harga2 saham komoditi lain masih lesu. Sampai2 ada yang ganti frame sepeda demi bela2in biar bisa dipasang pannier. Belum lagi heboh perburuan ban slick, celana keren trispas,  dan sebagainya. CEUK AING GE!!**

 

** kata om QQ terjemahannya bisa dilihat di www.kamusbahasasunda.com


Hari Jumat 5 Oktober merupakan siksaan di kantor. Semenit serasa sebulan, gak sabar menanti sore. Rencananya saya dan kebanyakan peserta akan langsung ke tikum stasiun kota, untuk rendezvous dengan KA Serayu Jakarta-Tasik jam 20:25.  Sempat karbo loading dulu di sop SBY gondangdia bersama Om RC, OT, Om AKJ, dan Om Deden. Bayangin sensasinya : sore2 mendung manja ngariung nyeruput SBY bawa gembolan dan penir sambil ngebayangin CR. Eleuh eleuh ….

 

Singkatnya, menjelang jam 8 malam para peserta- ada yang berkelompok naik CL, ada yang gowes dari kantor, ada yang tikum sakinah mawaddah warahmah- kumpul di stasiun kota.  Hanya beberapa seli dan MTB yang diangkut ke gerbong, karena sisanya sudah diloading pick up sehari sebelumnya.  Itu makanya banyak dari kita yang terpaksa melewatkan acara gowes rebut BKT di pagi harinya, karena memang rencana loading ini sudah ditentukan jauh hari sebelumnya. Apa boleh buat. Dan berangkatlah kita semua menumpak kereta Serayu dengan sumringah, diiringi tatapan hormat petugas peron saat melihat kartu sakti Om Farid dan membaca tulisan tiket kita : ROMBONGAN KEMENHUB. Lamat2 dari balik pagar  terlihat om Olenk melambai lemah dengan mata berkaca-kaca. Nekat kau bro, tapi saya salut kau masih berani melepas kepergian kita. Perjalanan malam selama di kereta tak bisa dilukiskan dengan kata2.  Pendeknya, kebersamaan dan canda membuat perjalanan kelas ekonomi jadi berasa eksekutip.

 

Jam belum lagi menunjukkan pukul 4 pagi, ketika kereta tiba di Stasiun Tasikmalaya.  Di pelataran, Om Madro sudah menunggu sambil cengar cengir mirip kuda, sementara  om Reri Arab dan rekannya Kang Sanusi sudah menurunkan sepeda kita dari atas pick up. Konon malam itu mereka menempuh Bekasi-Tasik hanya dalam 4 jam. Etdan!  Persiapan dilakukan, pannier dipasang,  diiringi senyum lega Korwil karena di sepeda mayoritas peserta tercantol pannier. Dan tak lama, 33 sepeda dengan kelap kelip lampu berkelebat di keheningan subuh, menuju masjid terdekat untuk shalat subuh.  Perjalanan sepanjang pagi terasa segar, kendaraan tidak padat, sehingga semua bisa gowes tertib dalam rombongan besar.

 

Aspal halus dan kontur naik turun dilibas dengan penuh semangat. Inilah pertama kalinya trip anu mengikutsertakan wanita, sehingga pemandangan jadi penuh warna. Tercatat ada 6 lady robekers  yang ikut, dengan gaya gowes nya masing masing : Nte Imel dengan gowesan bertenaga. Nte Arie gowes bersahaja. Nte Desche gowes bercanda. Nte Dewi Imoet gowes berkharisma. Nte Anya  gowes bergaya. Nte Annisa gowes mesra.  Hahaha gimana nggak mesra, wong gak dimana2 ditempel terus sama Kang Inu. The whole trip  was a real sticky situation. Seperti kisah sepasang  backpacker dalam balada Simon and Garfunkel : “ Let us be lovers, we’ll marry our fortunes together. I’ve got some real estate here in my bag ….”

 

Sekitar jam 7 pagi, kami tiba di pitstop pertama untuk  sarapan, di sebuah warung di daerah Kawalu yang menyajikan menu sop kaki dan masakan khas parahiangan lainnya. Habis makan, session foto dimeriahkan oleh the Tris Family, menenggelamkan pamor dan sejarah kelam team celana  Radioshack yang pernah fenomenal di trip CR CiptaGelar. Perjalanan dilanjutkan,  dan mulailah beberapa tanjakan landai namun panjang menghadang. Menurut RC, mungkin total sekitar 5km tanjakan panjang yang cukup membangkitkan selera, plus kontur naik turun berkelok kelok. Beberapa kali Nte Desche  sempat merasakan dorongan maut Om Madro, yang setia berada di belakang sebagai sweeper.  Sempat beberapa kali pitstop dan regrouping untuk ambil nafas, terlihat semua peserta  sangat menikmati perjalanan bergaya ini, dengan pannier dan tetek bengeknya, sambil sekali2 beberapa orang  iseng nyundul2 RC.Sekitar jam 10:00, tibalah kami di Pantai Cipatujah, yang   artinya kita telah menempuh perjalanan sejauh 780km sejak start dari stasiun tasikmalaya. 80km bukanlah jarak yang pendek, tapi sekali lagi kebersamaan dan suka cita membuat semuanya jadi mudah. Disini peserta beristirahat, dan isi perbekalan. Gemuruh  ombak deras khas pantai Selatan dan teriknya matahari membuat malas untuk mendekat ke air. Semua memilih berteduh dan leyeh-leyeh  di warung2 pinggir pantay tanpa makan satay.

 

Jam 11:00 perjalanan dilanjutkan, dan kita dihadang oleh kontur aspal rusak yang membentang melipir pantai, disirami oleh terik matahari yang menyengat.  Peluh mengucur deras, membanjiri jersey melalui pori2 kulit yang sudah semalaman belum ketemu sabun. Harummm…!! Hanya setengah jam kita gowes, ketika RC memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran, masih di pinggir pantai,  untuk ishoma.  Satu keputusan yang sangat mengejutkan dan membuat takjub para anuers, seumur umur gowes kategori “brutal training”,  baru kali ini RC mengijinkan makan tepat waktu. Biasanya makan siang bergeser ke sore, atau bahkan malam (yang artinya gak ada makan siang !). Menu utama ikang bakar plus tempe+oseng kangkung+lalap+sambal dengan cepat berpindah ke tembolok peserta, yang kalap setelah menunggu sang koki menyiapkan makanan hampir satu jam. Tentu saja restoran itu nggak siap untuk mendadak menampung rombongan sirkus 33 orang kelaparan seperti ini.

 

Sambil makan siang, RC kembali mengajukan usulan bijak,  2 opsi bagi peserta : opsi pertama adalah gowes sampai Green Kenyon dengan resiko finish menjelang gelap sehingga tidak bisa menikmati wisata Green Kenyon. Opsi kedua adalah di “transfer” dengan mobil pickup berikut sepedanya sampai Green Kenyon, sehingga bisa berwisata disana. Opsi ini dipandang perlu, karena konon Green Kenyon terlalu indah untuk dilewatkan, terutama bagi yang jarang berkesempatan jalan2 ke daerah ini.  Hasilnya, semua 6 lady robekers  memilih untuk naik mobil ditambah beberapa lelaki agak pemberani yang  beralasan mau belajar berenang di sana.  Saya sendiri sempat bimbang mau ikut rombongan mana, hingga di detik2 terakhir saya memutuskan untuk gowes  saja,  bersama sekitar 14 orang lelaki perkasa  yang tersisa.

 

Jam 13:30, ketika kelompok 1 masih loading sepeda, kelompok 2  yang berisi 15 goweser berangkat melesat duluan.  Dan sesungguhnya sejak titik inilah the real Brutal Training dimulai. Picture this : Jarak 60km membentang. Cuaca terik tengah hari. Udara kering pinggir pantai. Kontur aspal rusak. Debu2 jalan yang beterbangan  (karena perbaikan jalan), stamina yang sudah menurun karena gowes dari pagi. Kurang tidur dari semalam. Dan, ultimate chalenge nya  adalah : semua goset alias gowes kesetanan.  Hwarakadah!!  Disini sudah nggak ada istilah RC atau sweeper. Gak ada istilah Bapak atau Anak. Pokoknya semua berebut ke depan. Mungkin, seperti yang sempat melintas di pikiran saya, sebagian mereka mau mencoba peruntungan:  kalo cepat sampai barangkali masih keburu masuk ke Green Kenyon.  Setelah hampir 1 jam goset, rombongan elbir dan mobil  pick up kelompok 1 pun melintas dengan riang gembira. Saya udah gak perduli, nanggung ah. Tercatat beberapa kali saya sempat mau kram dan harus melambat, untuk menghindari resiko karena perjalanan masih jauh. Beberapa tanjakan sedang yang mustinya cemen jadi terasa berat. Dan seperti diduga, setelah separuh jalan Om Madro sudah melesat hilang nggak tau kemana.  Kepala terasa cenut2 karena kepanasan dan kesal soalnya gak bisa nambah speed takut nanti kram.  Kalo udah gini, wajah ganteng Om Eep pun terlihat pera’ soalnya beliau masih bisa ngacir di kelompok depan dengan senyum2. Bah!   Di tengah kepenatan, sempat barengan sama om Emil, Om Reza, Om Firman sambil celingak celinguk gelisah nyari tukang kelapa muda yang gak kunjung ketemu.  Akhirnya sekitar 20km sebelum Green Kenyon, kami bertemu kelompok om Djohan, om Aris cs yang lagi nggelosor di warung. Lega rasanya, walaupun tetap nggak dapet kelapa muda. Tak lama kemudian,  beberapa orang rombongan belakangdatang, dan kita bareng2 melanjutkan perjalanan tetap dengan goset mode.  Akhirnya saya memilih aman : gowes santai di rombongan belakang hingga akhirnya berdua bareng OT saja. 10 km menjelang finish jalanan berubah menjadi beton hotmix yang nyaman. Sempat ngaso dulu di warung, melahap lontong dan gorengan yang tersaji di sana plus sebatang A mild. Jam 17:30, sampai juga saya di pelataran parkir Green Kenyon, ditingkahi teriakan om Kumis yang lagi ngopi: wooi, lelet emang nya fun bike?? Kurang ajarrr!! Tapi satu hal, mencapai finish setelah berjibaku seperti tadi sangat berkesan. Mungkin lebih berkesan dari seribu kali berenang di Green Kenyon.

 

Saat kami sampai, rupanya kelompok wisatawan Green Kenyon belum lagi keluar. Mungkin masih asyik berenang di kali cetek yang keruh pake pelampung. Gak taulah apa yang terjadi disana.  Mungkin gak penting juga. Belakangan saya cuma denger ada yang ketahuan punya keahlian langka : bisa berenang tapi gak bisa ngapung.  Selepas maghrib barulah semua peserta berkumpul, dan bersiap melanjutkan perjalanan sekitar 30 km lagi ke pemberhentian terakhir : Pantai Pangandaran.  Hanya beberapa orang saja yang melanjutkan dengan menumpang elbir, termasuk saya, karena kita harus mencari lokasi yang tepat, mempersiapkan peralatan, dan mendirikan tenda sebelum rekan2 yang  gowes tiba. Heheheh.

 

Sekitar jam 7 malam, elbir yang mengangkut saya tiba di Pantai Pangandaran. Beuh … ramai tenan maklum malam minggu. Baru sekali ini saya ke sini, padahal jaraknya dari kampung istri cuman selemparan pannier. Setelah menemukan lokasi yang cocok, Om Adit Ketay dengan cekatan  langsung memimpin proses pendirian tenda, sementara lady robekers mencari warung setempat untuk memesan makan malam. Jam 20:30 an, tibalah rombongan rekan2 yang gowes dengan lampu kelap kelipnya dan senyum sumringah.   We made it, folks!  Alhamdulillah. Acara selanjutnya, gampang ditebak. Makan malam dengan ayam goreng maknyoss, ngopi, ngudut, bercanda, ngerumpi, mojok,  … apalagi ya? Semua ditemani temaram lampu2 warung, keriuhan pengunjung pantai, suara debur ombak dan beralas pasir lembut Pangandaran. Hingga akhirnya semua mendengkur pulas dengan sukses di dalam tenda ataupun diluar tenda, beralas fly sheet,berkubang pasir dan berselimut kerlip bintang2 di langit.

 

Esoknya, hari minggu pagi 7 Oktober, tidak banyak yang bisa dilakukan. Jam 6:30 kita harus sudah berangkat dengan bus sewaan yang membawa kita ke stasiun Banjar, sekitar 60 km dari pantai Pangandaran ini.  Sesampai Banjar, sempat sarapan dulu di sekitar stasiun, beberapa makan sop ayam dan yang lainnya kupat tahu+bubur ayam. Lumayan, ditraktir Om Aris Kumis yang ulang tahun. Menunggu kereta api diselingi dengan atraksi beberapa debt collector yang untuk kesekian kali memaksa peserta merogoh dompet buat biaya tambahan. Hahahha. Perjalanan di kereta menyisakan banyak kenangan dan insiden: mulai dari ngintip kartu remi Belanda, diskusi ngalor ngidul, insiden aki2 penjual kipas yang dapat berkah setelah jatuh kesandung, ngeledekin teteh k**t*l pedagang asongan, foto2 paparazzi, pesta sego petjel, sampai ngomongin rencana trip selanjutnya,  yaitu ke ……………

 

Terima kasih buat semuanya, bendahara, seksi transportasi, konsumsi, tiket, tenda, wak haji dan armadanya, dll. Kerjasama yang luar biasa, semua peserta berperan penting dalam melancarkan perjalanan ini. Terimakasih buat robekers yang telah mendoakan dan bersabar dengan postingan bertubi tubi lip ripot di milis tercinta ini. Salut buat semua peserta yang tetap semangat menyelesaikan perjalanan yang teramat melelahkan, seluruh peserta menyelesaikan gowes 80 km, sebagian besar menyelesaikan gowes 140 km dan sebagian lainnya 170 km. HEBAT ! Last but not least, tidak lupa pesan sponsor : DENGAN RAJIN BER B2W KITA BISA!!.

 

TABIK

 

Catatan : list peserta : Ady, Aditya Ketaiy, Afri Korwil, Annisa, Antony, Anya, Ari, Aris Kumis, eEpGanteng, Budi wakorwil, Depe Hasanud, Mang Dewa, Dewi Imoet, Desche Buben, Djoh, Emil, Farid Bunyet, Firman Muda, AKJ, Herdik, Iman RC, Iman Ketel, Imelda, Wak Aji Lutpi, Reza, Sudirboy Madro, Teguh, TJ 15cm, OT, Gusdur, Eko KG, Inu Krupuk,

—————————————————————————————————————————————————————————————-

 

CR Pangandaran – The Missing Piece by Om Deden Sureden

Pertarungan sebenarnya adalah saat ini, begitu terpikir dalam benaku. Setelah selesai bayar-membayar makan siang yang kami santap, baru teringat bahwa saya belum siap-siap untuk gowes lagi. Sarung tangan entah dimana, helm dicari-cari padahal ngegelantung di handlebar, buff sudah masuk kebagian tas paling bawah, kacamata pun susah dijangkau, dan mereka para pemberani sudah berteriak-teriak seperti burung gagak untuk segera berangkat. “Jig weh kadituh indit” kata saya dalam hati.

Tak lama, mereka pun mulai ngebud di jalan ancur penuh dengan lubang dan bebatuan, saya menyusul setelah beberapa puluh meter mereka jalan dan berhenti lagi untuk mengambil kacamata, silaw mennn..

Sekilo, dua kilo meter saya mencoba memacu, saya lihat di garmin ujung jalan ketika di zoom-outpun masih belum terlihat, yang ada hanya garis guidance sepanjang pinggir pantai. Patokan hanya jarak sekitar 70km/20kpj mungkin akan nyampe 4jam, saat itu sudah hampir jam 2.. “damn!! lama” saya berguman dalam hati.

Tidak beberapa lama om Gusdur dan Temannya terlewat, dan juga Adi.. ya, memang begitu dia, menyimpan tenaga untuk long gowes, saya coba untuk merangsuk ke depan, tapi makin lama mereka makin jauh, makin tidak kelihatan. Sudah gak ada gunanya memacu lagi, perjalanan masih sangat jauh, ku kendurkan gowesan mencoba mengatur ritme supaya tidak terlalu memaksa. Tidak begitu lama om Gusdur dengan kecepatan full dia melibas jalanan untuk melaju kedepan. Disini saya baru sadar bahwa jalanan sangat-sangat tidak menguntungkan, fork depan rigit dan tidak ada suspensi satupun di sepeda yang dipakai, setiap getaran langsung merambat ke seluruh badan. Dari tangan, kaki, pantat, pinggang, pundak, sampai kacamata mengalami guncangan yang hebat. Lima kilometer sudah di tempuh dan tidak ada tanda-tanda bahwa jalan akan membaik, sempat nanya ke penduduk dan jawabannya tidak melegakan “Masih tebih awona mah, dugika cikalong weh” damn lagi.. where the hell is cikalong? How far from am I right now.. bertatapan dengan om Firman dan kami memutuskan untuk lanjut no others choice.

Tak lama om emil dan om adi menyusul, komposisipun berubah om firman dan om emil melaju lebih cepat, saya dan adi mengayuh dengan diselingi mengatur kombinasi gear depan dan belakang. Karena guncangan membuat posisi RD dan shifting jadi gak karuan, hal ini akibat dari tadi pagi menggemblok pannier segede gaban di rak belakang dan dicoba dipaksa di beberapa tanjakan, wal hasil setiap power yang berlebihan membuat RD dan rantai seperti burung yang sedang masa kawin, loncat kesana kemari tidak ada arahan.

Perlahan dan tak pasti setiap gowesan kukayuh dengan mata nanar melihat jalan yg tak kunjung membaik, tangan kesemutan sudah menjarah ke pergelangan, kacamata keren ikut ajrut2an membuat dunia bagaikan gempa terambang-ambing. Ditengah kegalauan munculah para rombongan executive dengan kendaraan double kabin melambai-lambai, hanya satu kalimat yg terdengar “Mau ikut om?” bagaikan disiram air Sprite digurun pasir, dan entah kenapa RD kembali bergerak kemana-kemana, tanpa pikir panjang saya turun dari sepeda dan melambaikan tangan tanda setuju dengan ajakan yg baru didengar.

Perjalanan selanjutnya tidak seindah yang dikira, betis barusan abis gowes harus ditekuk karena kami berbagi tempat dengan sepeda, pantat dibanting2 ke lantai mobil tanpa alas lemak, tangan yang masih banyak semut bersarang harus berpegangan kebibir bak mobil. Beberapa kali kami konpirmasi ke sang sopir, dia cuman bilang bahwa tujuan kita didepan. What?! Ikan cupang gw aja tau kalau tujuan kita didepan, kalau dibelakang kita salah jalan namanya.

Jam setengah empat kami sampai di parkiran Green Kenyon yang ternyata dipenuhi para pelancong, ada yang dari jerman, australi, swiss dan ciamis. Tanpa panjang lebar tiket masuk dipesan dan kami membagi peserta menjadi 3 kelompok yang masing2 menggunakan perahu dan guide yang berbeda.

Perjalanan diperahu hanya sekian menit, kanan-kiri sungai awalnya hanya ditumbuhi pepohonan liar, makin kedalam dinding batu kian menjulang dengan kokoh, tekstur-tekstur ukiran disetiap dinding batu membentuk bagian-bagian abstrak seperti ukiran yang di buat dan direncanakan, tapi siapa yang membikinnya? Tentu saja setiap tektur yang ada disana adalah hasil karya alam, entah itu karena air, atau pembentukan karena larva yang mengalir atau faktor-faktor alam yang lain. Lumut dan tanaman menjalar tumbuh didinding tersebut bagaikan ornamen-ornamen yang sengaja disandingkan dengan kokohnya batu-batu tersebut.

Didalam tempat wisata, kami ditawarkan dua opsi, hanya melancong untuk melihat-lihat saja atau gejebur berenang menyusuri sungai itu ke arah hulu dengan arahan sang Guide dan biaya terpisah. Bukan pilihan yang sulit, kami langsung gejebur dan bersuka cita foto-foto diatas air yang jernih dan mengalir tenang. Mungkin keriuh rendahan yang kami buat waktu itu hampir sama dengan Demo di senayan untuk menurunkan harga sembako, ada yang sengaja loncat, berteriak ajrut-ajrutan, merangsak ke depan untuk mendekati kamera, semua cara dilakukan untuk terlihat oleh kamera. Ditengah riuh rendahnya kami menikmati keindahan Green Kenyon terdengan dengan jelas suara pejabat Dephub bagian Hubla.. “Jangan pegangin gw.. jangan pegangin gw, gw gak bisa berenang.. nih pelampung gw juga bermasalah, gak bisa dikancingin” semua tertegun dengan kalimat yang terlontar banyak fikiran berkecamuk dalam benak kami, namun dipecahkan oleh om EKG yang menawarkan pelampungnya, untuk gantian dan akhirnyapun sang pejabat terlihat lebih tenang. Tapi trauma dipegangin oleh yang gak bisa berenang sepertinya masih berkelanjutan.. tidak terhitung kata-kata “Jangan pegangin gw!” memecahkan keramaian tempat wisata.

Tantangan selanjutnya beralih ke batu yang menjulang tinggi yang menempel ke dinding sungai, banyak orang yang meloncat dari batu tersebut dan menceburkan diri ke sungai, kamipun satu per satu mendekati dan memanjat ingin mencoba, tapi saya tidak, saya tidak suka dengan meloncat seperti itu, saya sudah tahu bagaimana rasanya, bagaimana sepersekian detik ketika badan kita menolak dari batu tersebut dan terjun mengikuti gaya gravitasi, seketika itu juga jantung kita serasa berhenti, sekian detik terasa sekian jam. Berkali-kali sudah saya coba untuk melakukan eksyen gaya jet lee pada waktu saat melayang itu, dan gak pernah berhasil, yang ada hanya pikiran “kapan nyampainya kebawah!”. Yang lain mencoba satu per satu, terakhir tinggal lady 2 robekers yang belum terjun, salah satu dari mereka sudah siap terjun, dengan diawali dengan memanjatkan tangan sambil tengadah keatas, terlihat serius! Menutup kedua mulutnya tanda berpikir keras sambil membaca surat dalam alquran yang mungkin sampe 1 juz terakhir yaitu juz ke 30 selesai. Ketika dia melangkah menuju ujung batu untuk terjun, dia langsung mengambil sikap andeprok (duduk menjatuhkan diri) dan pergi kebelakang lagi. Begitu terus berulang sampai akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk melihat ke hulu sungai.

Sebelum sampai ujung hulu sungai kami dipaksa pulang balik oleh Guide, karena hari sudah beranjak gelap, pulangnya kami lakukan dengan menggelosorkan diri mengikuti arus dibantu dengan pelampung yang kami pakai, arus-arus kecil dan celah antar batu memaksa kami melaju lebih cepat dan harus lebih berhati2 jika terbentur. Perjalanan diakhiri dengan mengarungi sungai dan badan kami membuat ular-ularan panjang, badan telentang kaki menempel dipinggang teman sebelah depan dan pandangan mengikuti dinding2 sungai yang menjulang, terlihat jelas keindahan dan ketenangan yang ada disana membuat jiwa tentram ;).

Dan wisatapun diakhiri dengan menaiki perahu kembali ke parkiran.

Perjalan berikutnya 30km menuju pantai pangandaran, setelah RC mendapat petunjuk dari penduduk lokal tentang jalan terbaik menuju pantai dengan bersepeda, akhirnya kami melaju mengikuti RC, lampu depan belakang sudah dipasang dan barisanpun lebih teratur, lebih berhati2 karena hari sudah gelap.

Jalan yang sesuai petunjuk penduduk itu ternyata bukan pilihan yang nyaman, jalannya merupakan jalan hancur, sampai single trek ditengah padang rumput yang gelap, tapi semua peserta menyatu dalam barisan yang akhirnya tek kembali ke jalan aspal keluar di jejeran warung-warung yang memutar musik dangdut yang keras, dan teteh-teteh menor pada nongkrong diluar. Hanya satu kejadian bocornya ban om Gusdur sampai dua kali. Selain itu perjalanan terbilang lancar.

Kamipun masuk pantai pangandaran, menyusuri jalan dan mencoba mencari-cari tim penyambut yang sudah bersiap-siap dengan tenda dan makanan, tapi ternyata sampai ujung jalan kamipun tidak ketemu dan kami harus balik arah karena ternyata mereka sudah terlewat.